Menyala_lah “the Glory Land” Catatan Seorang Pamanah AREMA, Ki Wibie Maharddhika
“Malang Menyala” adalah slogan Festival Malang Mbois 11 yang diadakan oleh komunitas Malang Creative Fusion bekerjasama dengan “stakeholders” kota Malang. Diantaranya dengan KORMI (Komite Olahraga Masyarakat Indonesia) Kota Malang yang turut mendukung kegiatan “Sportainment” di komplek Stadion Gajayana 21 – 23 Agustus lalu. Gegap gempita dan semangat orang-orang kreatif Malang ini patut diapresiasi setinggi-tingginya dengan mengetengahkan ide dan inspirasi yang berupaya menumbuhkan sektor ekonomi kreatif kota Malang berbasis aktivitas seni budaya dan olahraga masyarakat.
Kegiatan superkreatif AREMA ini juga menjadi bentuk nyata predikat kota Malang sebagai kota kreatif dunia. Terkhusus dalam bidang “Media Art” (seni media) yang ditetapkan oleh UNESCO Oktober 2025 lalu. Malang telah resmi masuk dalam jaringan global UNESCO Creative Cities Network (UCCN) dan tentu saja atmosfir kreativitas level internasional harus selalu dihidupkan oleh seluruh lapisan warga kota. Termasuk pola pikir dan mentalitas sebagai manusia terdidik (well educated people) wajib menjadi nutrisi kepribadian yang harus dikembangkan. Sejatinya inilah implementasi nyata dari slogan kota Malang “MBOIS BERKELAS”. Ia adalah bukti konkrit gerakan warga kota Malang yang sangat bernilai bagi kemajuan peradaban kota. Tak tanggung-tanggung anak-anak muda MCF tersebut mampu menarik perhatian beberapa pejabat pemerintah pusat setingkat Menteri untuk hadir mengapresiasi. Ini adalah bukan cipta kekuasaan, namun wujud keberhasilan ide, gagasan, wawasan dan jaringan.
Menarik bahwa dalam pelaksanaan festival, telah terjadi “insiden” terkait dengan penghapusan mural legendaris “MALANG THE GLORY LAND” yang hendak ditimpali dengan tulisan “MALANG MENYALA” serta memunculkan polemik. Hal ini oleh panitia Festival Malang Mbois 11 telah diakui sebagai kekhilafan dan miskomunikasi yang tak diniatkan dengan sengaja. Tokoh penggerak Malang Creative Fusion pun tampak merespon cepat dengan menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada publik. Silaturahmi telah dilakukan dengan komunitas Mural dan panitia telah menunjukkan upaya tulus untuk memperbaiki serta mengembalikan tulisan semula. Walaupun demikian, peristiwa tersebut terlanjur membawa dampak bagi acara Festival Malang Mbois 11. Yakni dengan mundurnya sebagian musisi lokal dari kegiatan panggung musik di Stadion Gajayana. Terjadi dengan alasan rasa solidaritas kepada komunitas Mural kota Malang. Sesuatu yang bisa dimaklumi sekaligus membawa pesan-pesan yang menjadi catatan bagi penyelenggaraan event kreatif tersebut.

Dinamika tersebut tentunya menjadi pelajaran sangat berharga bagi semua pihak. Alih-alih larut dalam penyesalan kolektif, justru ini adalah tanda bagi manusia-manusia kreatif untuk semakin lebih mengedepankan solusi dalam pelaksanaan acara festival. Alhamdulillah puji TUHAN bahwa spirit SALAM SATU JIWA telah menjadi “alas batin” AREMA. Kekuatan semangat tersebut menjadi daya perekat pikiran sadar dan alam bawah sadar arek-arek Malang. Salam kebanggaan AREMA yang sakral dan spiritual itu menjadi cahaya bagi insan-insan berpikiran maju guna menjadikan sebuah persoalan sebagai kendaraan untuk naiknya level kesadaran. Bukannya terjerumus dalam gelombang amarah, kekecewaan dan perselisihan.
Penulis mengutip kalimat dalam salah satu spanduk yang terpampang di tlatah Tumapel Singhasari ini bahwa AREMA adalah singkatan dari “Ati Raga Eling Marang Allah”. Sungguh menggetarkan ! Ketika hamba TUHAN selalu mengingat kembali “sangkan paraning dumadi” nya yang berasal dari SATU JIWA (min Nafsin Wahidatin), maka tak pelak ia akan membaca sebuah kasus atau dinamika masalah sebagai jalan untuk menafikan ego diri guna melebur kepada kebersamaan dan kesatuan yang semakin jernih. Ia sadar bahwa ego kepentingan sepihak hanya akan membawa kepada polarisasi semu yang kontra produktif serta jauh dari realitas kreatif.
Sudah menjadi rumus hidup bahwa manusia kreatif adalah orang-orang yang berkarakter jujur, rendah hati dan pekerja keras. Sifat-sifat itu didasari oleh kesadaran tertinggi dan penyaksian atas Kebesaran Sang Maha Pencipta. Mereka adalah para “Panah Jiwa” (PANJI) yang melesat dari Gandewa TUHAN Sang Pamanah Sejati. Artinya, mereka adalah orang-orang yang mengingat ALLAH dan “bisa rumangsa ngrumangsani” bahwa Kreator Sejati adalah TUHAN Sendiri. Bukan diri mereka. Kesadaran “Suwung” itu menjadikan mereka semata “alat”NYA dalam Berkreasi dari Singgasana Surgawi yang serba murni penuh kegembiraan dan sukacita, serta canggih tentu saja. Mereka semata “Anak Panah Cinta” dalam lesatan kreasi yang mengharmoni jagad. Keceriaan manusia kreatif senantiasa berdampak “Hamemayu Hayuning Rat” (mempercantik keelokan semesta).
Karakter “Ati Raga Eling Marang Allah” (AREMA) pun mau tak mau menjadikan seseorang mampu mengalahkan ego hawa nafsu dirinya sendiri. “Jihadun Nafsi” inilah yang dikatakan sebagai manusia pemenang dan berjaya. That’s The Real Glory ! Kejayaan nyata yang membuat seseorang menjadi semakin cerdas serta berjiwa suci. Walhasil ia akan memilih fokus kepada perbaikan diri serta membangun jaringan energi, vibrasi dan frekuensi yang semakin murni dan luas. Seluas dunia global, selautan semesta, sesamudra kejernihan NGALAM yang cahaya NYA semakin MENYALA. Biarlah kesadaran ini menyemangati kreatifitas demi kreatifitas MALANG THE GLORY LAND Kota Kreatif Dunia tercinta. Festival Malang Mbois 11 dengan segala dinamika kekurangan dan kelebihannya adalah kesuksesan nyata bagi perjuangan kreatifitas AREMA yang semakin melegenda. Lanjut Lur….!
Salam Satu Jiwa
Salam PANJI Panah Jiwa
RBG. Kushariyono Arief Wibowo, S.Fil
(Ki Wibie Maharddhika)
Ketua PERPATRI Nusantara Jaya Kota Malang
Ketua Bidang Olahraga Tradisional dan Kreasi Budaya KORMI Kota Malang
Ketua Bidang Kebudayaan PERPATRI Nusantara Jaya Provinsi Jawa Timur
Ketua Umum LASKAR PANJI SURYANEGARA
Pamanah AREMA
