Olah Manah Udheng Panji Mataraman, catatan Wibie Maharddika
Alhamdulillah puji syukur ke Hadirat ALLAH SWT, bahwa sebagai bagian dari seni budaya panahan tradisional Jemparingan di LASKAR PANJI SURYANEGARA. Saya mengkreasi Udheng/Blangkon khusus yang saya namai UDHENG PANJI MATARAMAN. Bentuknya sederhana. Semata sebuah udheng/blangkon khas Mataram Ngayogyakarta yang saya tambah dengan Mahkota sebagai simbol Gunungan yang menjulang di bagian belakang Udheng. Ini adalah bagian dari busana khas LASKAR dan BREGADA PANJI (Panah Jiwa) yang kami garap berpusat dari Malang Raya untuk dipakai. Terlebih kala kami mengadakan atau mengikuti GLADHEN JEMPARINGAN dimana saja.
Saya pernah katakan bahwa inspirasi Mahkota/Gunungan itu adalah dari keberadaan Malang Raya yang dikelilingi dan dipeluk tak kurang 8-9 Gunung besar dan kecil. Di antaranya ada Arjuna, Semeru, Bromo dan Kawi. Keberadaan para Gunung keramat tersebut serasa mengayomi atmosfir Malang Raya. Sehingga saya tergerak untuk mengabadikannya dalam bentuk Udheng/Blangkon yang menemani saat kami ber OLAH MANAH.
Bicara soal filosofi, sudah banyak literasi yang membedah makna UDHENG. Saya hanya menambahkan GUNUNGAN karena terinspirasi betapa GUNUNG di Malang Raya. Hal ini membawa suasana kesejukan alam di area Mata Air Peradaban Jawa ini. Kejernihan sumber mata air yang senantiasa menyegarkan, membersihkan dan mensucikan. Sekaligus berada di dataran tinggi yang melambangkan kesadaran nan menjulang melangit.Itulah keterkaitan dengan gerakan OLAH MANAH yang kami lakukan selama ini. MANAH sendiri berarti soal pikiran, hati dan jiwa.

Olah manah bermakna upaya mengolah aspek batin tersebut sebagai tujuan prioritas dalam wiraga, wirama dan wirasa JEMPARINGAN Gagrak PANJI MATARAMAN. Dimana kami formulasikan. Falsafah Jemparingan kami adalah PANJI sebagai singkatan dari PANAH JIWA yang membangun karakter pribadi MANAH SAE KANG SUCI (pikiran, hati dan jiwa yang baik serta suci). Memanah adalah gerakan amar makruf nahi mungkar “ke dalam” diri. Gerakan untuk memanah ego jiwanya sendiri. Laku untuk terus mawas diri, tahu diri dan koreksi diri tanpa henti sebagai wujud makrifat yang sejati.
Setiap rambahan (ronde) dalam sessi Jemparingan menyertakan 4 Jemparing (Anak Panah). Hal itu kami maknai sebagai 4 hal yang harus selalu dilepaskan atau dilesatkan keluar dari pribadi para Pamanah. Yakni kondisi amarah, dendam, trauma dan rasa sakit hati yang mengendap di alam pikiran sadar. Dan terutama sebagian besar (90%) mengendap menjadi sampah emosi negatif di alam bawah sadar.Ada 4 hal tersebut seringkali beranak pinak menjadi 10 sifat turunan berupa amarah, dendam, iri, dengki, benci, penyesalan, kekecewaan, malas, egois dan arogansi. Kesemuanya berpengaruh besar bagi kesehatan hingga perilaku serta nasib hidup setiap insan.
Maka saya menyebut seorang PAMANAH adalah “Panggayuh Jiwa Muthmainnah” atau pejuang peraih jiwa damai sejati. Yakni Jiwa yang telah berhasil melepaskan 4 kondisi di muka beserta 10 keturunannya. Jiwa hamba ALLAH yang layak dipanggil memasuki surga suka cita abadi dalam keridhoan ILAHI. Karena hanya berisikan sifat keikhlasan, kejujuran dan kasih sayang kepada seluruh mahluk tanpa terkecuali. “Pikiran tenang, ati padhang, dada lapang”, begitu kata Guru saya. Batinnya selalu sejuk dan menyejukkan diri serta sesama. Tidak keruh dan gaduh. Seorang PAMANAH, dengan memakai Udheng Panji Mataraman diharapkan semakin MUDHENG (paham) akan makna hidup. Dikarenakan batin yang selalu bermandikan mata air kesucian, hingga pkiran hati yang melesat menuju tingginya langit kesadaran. Hidupnya terus mengalir merendah bagai laku air dari sumber kesadaran menuju samudera kehidupan tanpa batas. Ia sudah TITIS TUNTAS… MERDEKA BEBAS !
Salam Satu Jiwa
Salam PANJI, Panah Jiwa
