Cinta Adalah Jiwa Seni Tanpa Batas, catatan Wibie Maharddhika
Ada yang bertanya, mengapa saya yang katanya orang Jawa, bahkan seorang seniman dan pemerhati serta pegiat budaya Jawa kok malah sekarang “trekjing trekjing” menyelami dan performing lagu lagu mancanegara bersama D’BEATBOYS mengusung lagu lagu THE BEATLES. Apakah saya sudah mengkhianati budaya Timur dan “ilang jawane”? Bahkan ada teman yang mengatakan bahwa musik itu kan haram. Mengapa Wibie Maharddhika yang katanya Muslim kok malah main band. Ada juga teman se angkatan yang mengatakan bahwa tampil bermusik sudah gak pantas buat kita. Pokoknya lumayan macam macam komen nya.
Saya bersyukur Alhamdulilah ada sebagian kecil (amat kecil) dari teman teman yang mempertanyakan hal itu. Wajar saja orang berbeda pendapat. Itulah hidup. Hanya saja saya amati orang orang yang demikian itu karena belum merasakan puncak kenikmatan universal dalam aktualisasi seni budaya. Ada “mental block” dikarenakan kekakuan mereka dalam membaca teks, simbol dan bahasa. Ujung ujungnya punya tafsir atau teori yang belum utuh.
Rata rata sekat batin itu muncul dikarenakan seseorang tidak sungguh hadir ikhlas apa adanya. Ada citra semu yang hendak dibangun yang seringkali lahir karena merasa lebih baik dari orang lain. Celakanya, hal itu semua seringkali tidak disadarinya.
Padahal makna JAWI itu adalah “JiwA kang kajaWI”. Orang baru dikatakan Jawa itu jika dia tulus mengekspresikan isi hati yang fitrah penuh kasih menjadi budi pekerti yang luhur guna “karyenak tyasing sasama” atau menciptakan kenyamanan bersama sesama. Inilah wujud Rahmatan Lil ‘Alamin. “Idkholush shurur” atau menyenangkan orang karena kita sendiri bahagia dan juga senang melihat orang lain bahagia senang.
Seni adalah media untuk mengekspresikan jiwa. Saat Jiwa semakin murni menuju kesadaran tunggal atau “bali ngalaming asuwung”, maka semakin hilang batas-batas dan kategori. Hingga menyentuh rasa kasih tertinggi sekaligus memeluk seluruh jiwa yang hadir ikhlas. Ini adalah energi, frekuensi dan vibrasi yang seringkali tak mampu diungkapkan dengan kata-kata, namun getarannya sangat terasa bagi hati yang tulus. Ia makin hadir terbaca dalam seni, khususnya musik, lagu, tembang dan aneka melodi suara.
Ketika kesadaran jiwa musikal yang lembut ini hadir, maka hanya orang orang yang “open minded” dan bersih hati saja yang akan suka cita menerima dan bergembira menikmati karunia nada serta irama cinta tanpa batas tersebut. Itulah dia jiwa asli orang Jawa.
You may say I’m a dreamer….
But I’m not the only one….
Bali ngalaming asuwung…
Tan karem karameyan…..
