Art and Culturemaestro

Ki Soleh, Maetro Budaya Tlatah Kaweningan, Catatan Wibie Maharddhika

“Leluhur ingkang nyangkul, kawula namung urun mikul”, itu kata-kata dan jawaban Ki Soleh saat penulis sampaikan pesan “ndherek mangayubagya” lewat jalur pribadi Whatsapp atas acara Launching Film dan Diskusi “Ki Soleh Adi Pramono, Evolusi Maestro Seni Tradisi Malangan” Sabtu, 12 September 2026 lalu di Mesem Café Tumpang, Malang Raya. Suatu kehormatan bagi penulis ketika Dhalang Sepuh Wayang Topeng Malang itu secara pribadi mengundang dan mengirimkan digital flyer acara via WA. Bagi penulis, acara tersebut tak hanya sebagai bentuk pengakuan pemerintah lewat dana kebudayaan kementrian bagi seniman berkelas nasional di Indonesia, namun terlebih adalah momentum penting dan strategis bagi kebangkitan seni tradisi Malangan sebagai khasanah unik yang memperkaya mosaik kebudayaan Nusantara.

Kata-kata jawaban Ki Soleh di muka selain menunjukkan sifat kerendahan hati seorang Maestro sejati, sekaligus adalah kunci utama bagi terbukanya segala gagasan, ide dan ekpresi karya pengasuh Padepokan Seni Mangun Dharma tersebut yang akan tercatat sebagai legenda. Kalimat yang mengakui bahwa karya seni yang indah dan agung tak bisa lepas dari spiritualitas dan warisan leluhur. Leluhur lah yang menggali nilai dan semangat tradisi dari kesadaran bumi pertiwi, sementara anak turunnya semata menyajikan kembali dalam bentuk kekinian yang tetap berakar kuat dari kesadaran adiluhung.

Dalam berbagai kesempatan di acara Padhang Mbulan Mesem Café Tumpang yang menjadi salah satu jangkar syiar budayanya, Ki Soleh menegaskan bahwa seni tradisi Nusantara dari Sabang sampai Merauke berakar dari laku spiritual. Beliau sendiri diberkahi sebagai “Dhalang Jati”, yakni seorang Dhalang yang mewarisi pengetahuan teknis dan spiritualitas pedhalangan baik dari sisi leluhur ayah maupun leluhur ibunya. Ini salah satu hal yang langka. Tak mengherankan DNA yang kuat turut membentuk sejarah dan pribadi Ki Soleh hingga mampu meneruskan perjuangan pendahulunya.

Padepokan Seni Mangun Dharma adalah wujud nyata upaya beliau melanjutkan seni tradisi Leluhur dengan penyajian kreatif sesuai eranya. Daya serap seorang multi talent sekaligus semangat inovasi sesuai jaman adalah kelebihan Ki Soleh dalam mengangkat seni tradisi Malangan yang terus dieksplorasi. Istimewa bahwa ia tak hanya seorang Dhalang, namun juga penari, koreografer, bawaswara, pengrawit, pemahat topeng, dan tentu juga seorang Dhukun atau konsultan spiritual yang melayani laku “pangruwatan” bagi masyarakat luas. Sungguh insan langka nan istimewa.

SPIRIT MENIMBA ILMU DAN MEMBUKA HATI

Sangat menggetarkan hati ketika Ki Soleh di acara Launching Film dan Diskusi Sabtu malam lalu menceritakan kisah lelakunya sebagai seorang seniman Malang Raya. Salah satu penopang kesuksesan Ki Soleh sebagai seniman tradisi adalah Beliau “jangkep” tak hanya diberkahi dengan Gen DNA Dhalang tradisional, namun terdidik pula secara akademik sebagai lulusan Akademi Seni Tari (ASTI) Yogyakarta yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Dikisahkannya bahwa tekad menimba ilmunya di Ngayogyakarta dan juga Surakarta adalah salah satu wujud perjuangan “sumpah”nya kepada Leluhur guna mengabdikan diri mengangkat harkat martabat seni tradisi wayang topeng Malangan.

Ki Soleh lengkap tak hanya membangkitkan “otak kanan” sebagai gudang kreatifitas yang memang telah ia warisi, namun juga mau mengasah “otak kiri” sebagai alat analisa keilmuan secara empiris, objektif dan ilmiah. Pengalaman merantau untuk “nggula wenthah” di dunia perguruan tinggi adalah pilihan objektif sekaligus visioner bagi seorang seniman yang biasanya “merasa cukup” dan asyik dengan dunianya sendiri. Ini juga membentuk karakter seorang Ki Soleh yang tak tertutup dan memiliki sifat “open minded” menerima ide dan inspirasi dari manapun sebagai “jejering sarjana kang martapi”.

PENGHUBUNG MATA AIR DAN SAMUDRA

Mengapa Ki Soleh mau melepaskan diri dari “zona nyaman” dan meninggalkan lingkungan “ningrat pedhalangan”nya di Malang Raya serta menembus suka duka perjuangan belajar di tlatah Mataram Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat? Menurut penulis, selain buahnya adalah segala pencapaian dan prestasi yang kini dirasakan oleh seni tradisi Malangan yang Beliau lestari kembangkan saat ini, barangkali ada sesuatu yang entah disadari atau tak disadari bahwa Ki Soleh adalah penghubung poros spiritualitas seni budaya antara mata air dan samudra peradaban. Bagi seorang yang lahir batinnya konsisten menjalani laku spiritual, maka tak ada istilah “kebetulan”. Segala pilihan “manah lan jangkah” nya adalah semata dalam rangka perbaikan diri serta mengalir “ndherek Kersaning GUSTI Hingkang Murbeng Dumadi”. Orientasi hidupnya semata untuk turut “hamemayu hayuningrat” atau mempercantik keelokan jagad.

Jika Mataram Islam di tengah pulau Jawa adalah samudra atau kumpulan warisan besar jejak perjalanan spiritual budaya religius Nusantara, maka tlatah Singhasari di Malang Raya adalah mata airnya. Samudra adalah karakter keluasan, sementara mata air adalah watak kejernihan. Sang Maha Pencipta mewujudkan hubungan abadi di antara keduanya dalam siklus kehidupan yang tak pernah berhenti mengalir. Jika kita konsisten turut menyimak ekspresi karya seni macapat Ki Soleh yang rutin Beliau gaungkan secara di Padhang Mbulan misalnya, adalah wujud dari semangat kejernihan yang meluas dan keluasan yang menjernih.

Sebuah laku khas seorang Maestro yang pikiran hatinya selalu rindu untuk mengharmoni dengan “ngalam” semesta. Sebagai insan asli AREMA, Ki Soleh adalah bentuk nyata pribadi yang mengaktualisasikan “Salam Satu Jiwa” baik dalam pikiran, perasaan, perkataan dan pebuatan.

Dalam konteks peradaban, kesadaran “Satu Jiwa” (Nafsin Wahidatin) ini adalah modal dasar kebangkitan sebuah bangsa. Semangat dan cita-cita ini yang ditunjukkan oleh Singhasari, khususnya era Raja Kertanegara melalui ekspedisi Pamalayu hingga dilanjutkan Mahapatih Gadjah Mada dari Majapahit untuk ber “Sumpah Palapa”.

Jika saja di jaman Kerajaan masa lalu semangat dan cita-cita menyatukan Nusantara tersebut masih kental bernafas politik dan kekuasaan, maka kini dengan semangat seni budaya adiluhung ia berevolusi menjadi nafas kesadaran semesta yang semakin murni. Inilah peran penting seorang Maestro kebudayaan di jaman globalisasi dan Gen Z, ia tak hanya produktif dan kreatif menghasilkan karya, namun sekaligus menyuntikkan kesadaran jiwa semesta. SINGHASARI semakin perlu dimaknai sebagai “Singgasana Ring Pertiwi” atau pusat kesadaran (mata air) Nusantara yang berperan menjaga “kaweningan” nya, sementara MATARAMAN adalah simbol “Manunggal Tinarbuka Rasa Kamanungsan” atau ekpresi harmoni dalam keterbukaan jiwa kemanusiaan yang bersifat universal. Segala simbol dan bahasa pada akhirnya adalah kekayaan lahir batin yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Bukan untuk perselisihan yang memisahkan.

MEMBANGUN BUDAYA NUSANTARA

Menarik bahwa dalam sambutan pembuka di acara Launching Film dan Diskusi Sabtu malam tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Drs. Firmando Hasiholan Matondang, MM menyinggung fenomena alam yang bergejolak sebagai pengingat sekaligus isyarat bagi bangkitnya kebudayaan Malang demi membangun Nusantara. Menurutnya, momentum Launching Film dan Diskusi Ki Soleh sebagai Maestro seni tradisi Malangan oleh adalah momentum kebersamaan para seniman budayawan Malang Raya demi kejayaan Nusantara ke depan. Itu semua menurut Firmando dimulai dari tlatah Singhasari dengan semangat warisan nilai budaya PANJI yang telah diakui dunia.

Terkait itu di medsos viral pula statemen budayawan Emha Ainun Najib belasan tahun lalu tentang “ramalan” fenomena meletusnya 5 Gunung secara bersamaan dan peran Yogyakarta dalam penataan peradaban dunia ke depan. Menurut penulis, disinilah letak peran strategis Malang. Yakni menyuntikkan kesadaran jernih atas ketunggalan jiwa sebagai modal untuk mengawali peradaban emas. Kejernihan yang membuat manusia jujur untuk memahami bahwa semua berasal dari Yang Satu. KeESAan adalah sifat Maha Pengasih Penyayang yang semestinya senantiasa menjadi dasar bagi mahluk untuk “manah lan njangkah” di muka bumi.

Walhasil Launching Film dan Diskusi tentang sosok panutan Ki Soleh Adi Pramono menyisakan banyak kebahagiaan, kebanggaan dan renungan mendalam, yaitu maha pentingnya fondasi kejernihan karakter dalam sebuah karya menuju legenda. Ekspresi “kaweningan” itu tercermin dalam sifat kejujuran Ki Soleh. Ia mengakui bahwa ia semata “turut mikul”, sementara Leluhur lah yang “macul”. Kejujuran (amanah) itu menjadi bekal sebuah pencapaian yang akan langgeng tak hanya di mata mahluk, namun terutama di mata keabadian.

Selain itu, bukankah kejernihan dan kejujuran adalah pasangan yang langka di era DFK (Disinformasi, Fitnah, Kebencian) saat ini? Bukankah energi, vibrasi dan frekuensi kejernihan serta kejujuran itu adalah peredam bagi bencana “ngalam” semesta yang terjadi pada bumi dan negeri? Sungguh kejernihan dan kejujuran itu berlapis-lapis tingkatannya yang membuka kedok berbagai drama, tangis dan sandiwara jagad raya. Film “Ki Sholeh Adi Pramono, Maestro Evolusi Seni Tradisi Malangan” tak hanya mengungkap sosok Pujangga Tlatah Kaweningan, namun juga wujud mengalirnya Tirta Perwita Sari yang menyegarkan, menyejukkan, membersihkan dan mensucikan karma anak bangsa. KUN FAYAKUN.

Penulis, Pamanah LASKAR PANJI SURYANEGARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?