Art and Culturemusic

Kota Mbois, Cagar Budaya, The Beatles dan D’Beatboys, Catatan Wibie Maharddhika

Awal kepindahan dari Jogja ke Malang dulu di tahun 2017, kata Mbois langsung melekat di benak saya. Ini sungguh istilah yang unik dan menarik. Satu satunya di dunia hanya ada di Malang untuk menunjukkan pada kesan orang yang keren, gaya, santun dan memiliki vibrasi positif.

Daya kreatifitas orang Malang seolah tiada henti. Berdirinya Malang Creative Center pada tahun 2022 menjadi simbol bagi Arema bahwa dari semangat Satu Jiwa mereka mengalir ide ide jernih beraneka untuk mempercantik keelokan semesta (Hamemayu Hayuning Bawana) melalui karya seni dan budaya. Saya pun sebagai warga baru sejak sewindu lalu semakin turut terjatuh dalam cinta dan dinamika kota Mbois ini.

Ketika DR. Ir. Wahyu Hidayat, MM menjabat Walikota periode 2025 – 2030 mengangkat slogan Mbois Berkelas, saya langsung mbatin “Mbois tenan…”. Mengapa? Karena menurut saya, Mbois atau sifat keren, gaya, santun dan vibrasi positif itu adalah sebuah proses yang mendaki. Bukan stagnan, namun ada kelas kelasnya. Sebuah peningkatan level kesadaran dan perilaku sebagai manusia. Jadi saya menangkap Pak Wahyu yang kini dikenal sebagai Pak Mbois ini adalah intelektual yang memiliki visi misi yang jauh agar kota Malang semakin memiliki “taste” atau cita rasa yang bertumbuh dengan akar nilai budayanya yang begitu enerjik dan powerfull. Bisa dikatakan bahwa orang Mbois pastilah Berkelas, dan yang Berkelas itulah Mbois.

Saat berdiskusi dengan para sejarawan, seniman dan budayawan Malang Raya, khususnya bersama “Indiana Jones” nya Malang Dwi Cahyono dalam diskusi Bedah Pararaton yang kami selenggarakan, saya konsisten menyatakan bahwa Malang adalah Mata Air Peradaban Nusantara. Disinilah terdapat secara geologis sumber air yang banyak dan masyhur, sekaligus secara historis adalah sumber lahirnya kerajaan Kanjuruhan hingga Singhasari sebagai akar silsilah kerajaan kerajaan besar tanah Jawa seperti Majapahit hingga Mataram Islam.

Maqom “Mata Air” ini sangatlah Mbois. Peran fungsi semesta nya adalah melahirkan kanal kanal dan sungai sungai demi bertumbuh nya kehidupan. Sekaligus pula sebagai pengingat akan sifat kejernihan yang harus terjaga dan dijaga. Tak heran jika di kota Malang banyak Cagar Budaya sebagai penanda jaman sekaligus “pepeling” akan ajaran adiluhung para Leluhur.

Menurut saya, disini hubungan maknawi dengan eksistensi kelompok musik The Beatles pun terjalin. Para pecinta musik kelas dunia pasti paham bahwa mata air inspirasi group group besar dan genre musik dunia adalah mereka kelompok musisi jenius dari Liverpool Inggris tersebut. John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringgo Star adalah individu individu fenomenal dan Berkelas. Hingga kini, belum ada yang menandingi jumlah penikmat musik sebesar The Beatles di dunia. Bisa dibilang, musik mereka adalah Fitrah genre musik yang ada. Sangat dasar, sederhana, sekaligus canggih dan cantik dalam aransemen. Ditambah pula dengan lirik lirik tentang cinta (Love), kemanusiaan (HUMANITY) dan Persahabatan (FRIENDSHIP) yang universal. Menjadikan group ini semakin Mbois.

Kersaning Allah, saya sudah “being installed” oleh musik The Beatles ini sejak kelas 4 SD. Saya bisa lebih “lanyah” berbahasa Inggris karena menghafal lagu lagu The Beatles lewat sampul kaset “tempo doeloe”. Berkah energi vibrasi frekuensi cinta, Ngalam semesta pun begitu Asyik mengatur pertemuan saya dengan musisi senior kota Malang Hari Koco (75 tahun). Beliau adalah pendiri group D’Beatboys di tahun 2014 yang, istilah Om Hari (sapaan akrab saya kepada Beliau), sebagai penghembus lagu lagu The Beatles di kota Malang. Pas posisi vocalis belum tergantikan dikarenakan meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Kelompok D’Beatboys pun reborn di tahun 2023 dengan formasi Hari (Basis), Diro (Gitaris), Wibie (Lead Vocal), Tomo Poedyo Oetomo Wignjohoesodo (Piano/Keyboard) dan Nick (Drum/Perkusi). Tentu saja orientasi kami harus selaras lebih tinggi dan Berkelas. Yakni untuk kepuasan JIWA dan menyuarakan gema Salam Satu Jiwa lewat lagu lagu The Beatles sebagai JIWA nya musik semesta.

Kehadiran Bapak Wahyu Hidayat Walikota Malang di event The Beatles di Dekata Cafe kawasan cagar budaya Kajoetangan 27 Juli lalu menunjukkan keseriusan Beliau untuk membangkitkan semangat bermusik kota Malang lewat sajian musik Mbois, Lawas, Berjiwa dan Berkelas. Sebuah kebangkitan seni budaya unik sekaligus universal yang turut berkontribusi bagi naiknya energi vibrasi frekuensi serta level kesadaran dan perilaku yang semakin Jernih (Tulus) sebening Mata Air Keheningan Jiwa.

D’Beatboys pun tak ketinggalan turut mempersembahkan lagu bernuansa ala The Beatles yang sederhana, tulus dan penuh sukacita untuk Mr. Mbois dan Kota Malang berjudul “Mbois Malangku”

Aku bahagia
Gembira damai kurasa
Di kota Malang tercinta
Berbudaya

Indah kotanya
Sejuk selalu terasa
Anugerah tak terkira
Alam raya
Bercahaya…. Yeah yeah yeah

Mbois….. Itulah kotaku
Mbois….. Berkelas dirimu
Mbois….. Kubangga padamu
Syalalala Mbois Malangku
Mbois….. Itulah kotaku
Mbois….. Berkelas dirimu
Mbois….. Kubangga padamu
Syalalala Mbois Malangku

Hidup berkarya
Dengan semangat AREMA
Gema salam SATU JIWA
Selamanya

Apa adanya
NGALAM ASYIK dan terbuka
Senyum ramah mempesona
Orang orangnya
NGALAM Mbois….. Yeah yeah yeah

Mbois….. Itulah kotaku
Mbois….. BERKELAS dirimu
Mbois….. Kubangga padamu
Syalalala Mbois Malangku
Mbois….. Itulah kotaku
Mbois….. BERKELAS dirimu
Mbois….. Kubangga padamu
Syalalala Mbois Malangku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?