Art and Cultureperformance

Panji Sang Cinta, Menggiring Alam, Memanah Semesta, Catatan Wibie Maharddhika


Dari Pementasan Teater Topeng Malang “Neo-Walangwati Walangsumirang” karya Sutak Wardiono, Selasa 4 Agustus 2026

AJAIB ! SPEKTAKULER ! SUBHANALLAH ! ALHAMDULILLAH ! Gumam bertubi-tubi penulis usai menyaksikan wujud karya kreatif kumpulan para Seniman Master Malang Raya menggarap karya mendiang Sutak Wardiono (Ki Sutak) di Taman Krida Budaya kota Malang Selasa malam lalu. Sampai detik ini kesan kuat terus menggema di pikiran dan batin tak berhenti. Penulis yakin para penonton tua muda yang berjubel di pendhapa kesenian Jawa Timur itu pun mendapat impresi yang sama.

Catatan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas aspek teknis panggung dan teatrikal yang digelar. Juga bukan tentang penampilan para Maestro yang ekspresif menggetarkan jiwa. Sebagai orang awam di bidang teater, penulis semata puas terpesona. Namun sebagai salah satu pecinta tokoh PANJI ASMARABANGUN, penulis sekedar hendak mengutarakan rasa haru bangga bahagia atas penampilan yang disutradarai Musthofa Kamal beserta asisten sutradara Sindhu Dhohir Herlianto yang memerankan tokoh Malangdewo itu. Apa yang disebut Musthofa Kamal sebagai upaya menghadirkan “Ruang Ketiga” berupa harmoni perjumpaan antara wayang topeng Malang, Ludruk dan Teater Epik Beltort Brecht tampak mulus terjadi. Ia hadir dalam suguhan yang membuat audiens turut larut dalam dialog, disertai kekaguman atas gerak tari dan penghayatan makna kalimat demi kalimat oleh para penampil. Sungguh dinamika yang hidup dan nyaris membawa petualangan rasa warna warni di setiap schene yang muncul di atas panggung.

Penulis bukanlah seorang penyuka teater. Barangkali karena selama ini agak trauma dengan pertunjukan teater yang terkesan bagi penulis “mengada-ada” baik akting dan dialognya. Alhamdulillah pertunjukan semalam serasa menghapus hal itu semua. Gairah untuk menyukai teater terlahir kembali. Sebagai orang yang pernah diwarnai oleh kehidupan seni tari Kraton klasik, dan sekaligus hingga kini berkecimpung di dunia pertunjukan musik, penulis sering dihantui kekuatiran hadirnya rasa bosan melihat pertunjukan seni yang tidak “eye catching” serta monoton. Semalam sungguh BLAASSS tak ada sama sekali ruang waktu untuk tak tertarik dalam adegan per adegan yang disajikan. Bahkan di beberapa adegan, terutama saat Sang Panji Asmarabangun yang diperankan penari kebanggaan Malang Raya Fima Wijaya perlahan mengurai makna Cinta, sungguh penulis tak bisa menahan keharuan mendalam…. ALLAHU AKBAR !

Tak puas dan tak sopan tentunya jika undangan dialog setelah pertunjukan terlewatkan. Apalagi saat Kamas Sindhu dengan kerendahan hati serta senyum khasnya menyodorkan mic untuk penulis. Beberapa patah kalimat pun sempat penulis sampaikan mengapresiasi. Sayang suasana dialog malam itu agak tereduksi oleh kebisingan suara audiens yang larut dalam sukacita akhir pertunjukan. Barangkali perlu ruang waktu yang berbeda untuk khusus mendialogkan momen bersejarah tersebut. Tulisan ini adalah untuk melengkapi apa yang penulis sampaikan malam itu.

Ide kehadiran seluruh aktor dan aktris untuk selalu berakting dan berada di atas panggung selama pertunjukan cukup membuat energi audiens terpusat. Prolog perkenalan para artis pun menarik dan mengalir membawa suasana akrab dengan penonton sejak awal. Harmoni antara tata artistik, pencahayaan, tata suara, iringan gamelan dan musik, serta skenario dialog dan gerakan tari yang detail menjadi kombinasi yang memuaskan indra dan rasa. Terlebih dialog yang dihadirkan berhasil menggunggah pikiran untuk terlibat dalam diskusi dalam benak selama sekitar 90 menit pentas berlangsung.

Contohlah Miqdad, salah seorang audiens Gen Z yang mengungkapkan kepada penulis akan kesannya pada salah satu kalimat dialog, “Kesasar ing dalan padhang”. Ini menarik dan menunjukkan bahwa naskah mendiang Ki Sutak berhasil memancing generasi muda untuk bertanya akan hal-hal filosofis yang mendasar. Mendorong generasi untuk melakukan mawas diri serta tetap “ngugemi eling lan waspadha”. Dunia memang begitu terang benderang dengan percepatan teknologi dan informasi, namun kecerdasan artifisial sangat mungkin menjadi pisau bermata dua. Ia bisa membawa kemajuan, namun racun disinformasi – fitnah – hoax mengancam kepada jurang kehancuran.

Sessi dialog yang menghadirkan moderator Mas Pethal alias Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan selaku Pembina Teater TERJAL FIB UGM juga menguatkan makna perbincangan bakdal pementasan. Mas Pethal tak hanya menstimulus dialog, namun membawa makna hubungan romantis poros spiritual seni budaya Malang dan Yogyakarta. Ini menguatkan apa yang penulis selalu sebut sebagai hubungan antara Mata Air dan Samudra Peradaban. Selain terkait hubungan sejarah Singhasari dan Mataram, hubungan ini punya makna filosofis yang lebih penting. Yakni bahwa selarasnya kejernihan batin yang disimbolkan sumber mata air dan keluasan pikiran yang diekspresikan oleh lautan adalah daya bagi lahirnya kreatifitas unggul dalam sejarah manusia. Kejayaan peradaban baru terwujud jika kedua karakter itu manunggal dalam kebudayaan.

Peradaban dunia semakin riuh rendah dengan warna-warni angkara murka dan ketamakan. Melahirkan perselisihan, pengkhianatan, konflik hingga peperangan yang semakin memperkeruh hidup. Godaan pikiran rasionalistis, ambisi individualistik dan gelimang materialisme sebagai akar kekacauan itu tergambar dalam adegan “Neo-Walangwati Walangsumirang”. Sutradara Musthofa Kamal bersama para seniman Mutiara Malang Raya berhasil mengangkat ekspresi “kekurang pahaman, ketidak sabaran, kerakusan dan ambisi pribadi manusia” sebagai bagian dinamika dan kisah khas perjalanan hidup manusia. Dan inilah mengapa kisah PANJI ASMARABANGUN itu abadi dan tak pernah mati. Perjalanan Sang Panji bukan semata sebuah pencarian akan DEWI SEKARTAJI kekasihnya, namun rangkaian tentang makna keberadaan, perpisahan, pengembaraan, pencarian jatidiri dan perjumpaan. Rangkaian kisah yang diwarnai berbagai gejolak tak hanya melibatkan Sang Putra Mahkota Jenggala itu, namun mempengaruhi pula dinamika Kerajaan dengan seluruh tokoh tokoh utama di sekelilingnya.

Jika kita menghayati hukum kekekalan dan interaksi energi alam semesta, maka pikiran – perasaan – perkataan – perbuatan setiap mahluk itu saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Penulis menyaksikan keindahan dan keagungan keterkaitan itu saat adegan “kekacauan” sekeliling istana di panggung utama dengan gerakan wiraga – wirama – wirasa nan halus syahdu dari tokoh Panji Asmarabangun di panggung sudut yang terpisah. Sang Panji melakukan perjalanan tapabrata mencari Sang Kekasih pada hakekatnya tidak hanya sedang membangun kisah cintanya sendiri. Setiap langkahnya membawa amanah dan pesan walau terpisah oleh jarak raga. Namun jiwanya tetap menyatu dengan Sang Hidup, sehingga dinamika di luar diri adalah cermin dari pergolakan batin yang intens dilandasi oleh semangat cinta kepada TUHAN, sesama dan semesta….. Spirit Sang Asmarabangun.

Hubungan energi, vibrasi dan frekuensi Sang Asmarabangun juga menghantarkan dialog mendalam antara Raja dan Begawan Malangdewo tentang makna kesempurnaan dan pengabdian yang hampir “memanas”. Juga disharmoni antara Walangwati Walangsumirang yang “menegangkan.” Termasuk hembusan ketamakan dan ambisi para punggawa istana yang hampir mengedepankan ego angkara murka. Kesemuanya tak lepas dari kesatuan dinamis “tarian jiwa” Panji Sang Cinta dari sudut pijakan ruang yang berbeda.

Puncak yang mengharukan tentu saja saat Panji hadir kembali dengan ketenangan dan kewibawaan dalam naungan cahaya Dewa Wisnu. Menentramkan huru hara Kerajaan dan mendamaikan keadaan kembali. Ini diperankan dengan sangat baik penuh kharisma oleh Fima Wijaya. Melihat sosoknya, penulis langsung teringat tokoh Khrisna dalam sinetron Mahabharata. “Saat engkau menyalahkan orang lain, engkau belum belajar”. Namun Saat engkau menyalahkan dirimu sendiri, engkau sedang belajar. Saat engkau menyadari tidak ada yang salah dan benar, engkau sudah belajar”. Sabda Sang Panji Asmarabangun membuka mata dan telinga kesadaran. Segalanya adalah semata “Wang Sinawang”. Semua telah SEMPURNA saat kita menyadari dengan rasa syukur disini (NING KENE) dan sekarang (SAIKI).

Mata penulis sempat membasah dan merasakan getaran hidup sesaat. Tetesnya mengalir deras dalam keharuan, takjub dan rasa syukur sebagai penyaksi drama berkelas itu. Betapa ROH kisah dan tradisi klasik wayang Topeng Malangan ini tetap hadir dan menguat dalam kemasan teater panggung modern yang ber JIWA. Saat PANJI kemurnian CINTA hadir, saat ASMARA langit dibangun, ia bagaikan Jemparing Anak Panah yang menggiring alam dan memanah semesta menuju kesadara keabadian suci. Sungguh SEMPURNA !

Terimakasih kepada seluruh Tim Produksi Pementasan Teater “Neo Walangwati Walang Sumirang”. Terimakasih Ki Sutak…. Untukmu AL-FATIHAH.

Wibie Maharddhika
(R. Kushariyono Arief Wibowo, S.Fil)
Alumnus Filsafat, anggota KAGAMA Malang Raya, Seniman, Budayawan, Pamanah
Tinggal di Malang Raya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?