Art and Cultureperformance

Semangat Kepercayaan, Semangat Manah Ketuhanan, Catatan Wibie Maharddika

Mensyukuri ditetapkannya Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME 13 Juli 2026. Maka sebuah sarasehan budaya dengan tema “Dengan merawat Warisan Leluhur, menguatkan Jati Diri Bangsa” digelar oleh Paguyuban Suaka Adat Wewarah Gesang cabang Kota Malang baru-baru ini. Tepatnya hari Kamis 23 Juli 2026 bertempat di Pusat Pastoral Keusukupan Malang Jl. Jaksa Agung Suprapto 75. Menghadirkan narasumber para budayawan Malang Raya Ki Sutrisno yang membahas Tumpeng. Kemudian Ki Aditya Fajar Utama, S.Hum., membahas Sajen dan Sam Wahyu Eko Setiawan (WES) membahas Tosan Aji.

Gelora semangat kebersamaan komunitas yang hadir dari beraneka latar belakang kelompok agama, kepercayaan dan budaya sungguh terasa. Penulis mencatat kehadiran tak hanya masyarakat etnik Jawa, namun juga banyak saudara dari komunitas Tionghoa hadir dan turut larut dalam sukacita batin bersarasehan. Salut dan apresiasi kepada komunitas Wewarah Gesang yang menggelar kajian tentang simbol-simbol budaya Jawa dalam tradisi Tumpengan. Berbagai simbol ke-Jawa-an dihadirkan mulai dari berbagai Tumpeng, Sajen, Cok Bakal hingga Tosan Aji. Kesemuanya diwedar dan didiskusikan dalam suasana guyub rukun nan dinamis pagi hingga siang itu. Tampak sekali Pusat Pastoral Keuskupan Malang hari itu menjadi ajang kerinduan spiritual dan menjadi salah satu wujud nyata ekspresi “Bhineka Tunggal Ika” yang kita idamkan.

Salah satu hal yang menarik dan cukup “hangat” dibicarakan dalam sarasehan adalah ketika salah satu narasumber membahas tentang ritual “ujub donga” tumpengan. Tak dipungkiri bahwa salah satu kerinduan sebagian masyarakat Jawa di era milenial akhir ini adalah berupaya menelusuri kembali simbol-simbol dan bahasa asli Nusantara. Sempat disinggung tentang tradisi doa tumpengan yang selama ini menyertakan asma Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat. Bahkan pertanyaan muncul dari peserta sarasehan yang mempersoalkan hal tersebut. Mengapa tak cukup dengan menyebut nama-nama leluhur dari Jawa saja?

Selanjutnya mengapa perlu menyebut Leluhur dari Arab? Mengapa masih ada budaya “dhayoh” (tamu) di bumi Jawa. Tentu saja ini adalah satu pertanyaan sensitif bagi umat beragama, khususnya Islam. Yakni khususnya bagi kaum Muslimin Jawa atau orang Jawa yang menganut Agama Islam seperti halnya penulis. Sungguh pun cukup menggelitik batin, namun pertanyaan tersebut dilandasi oleh semangat kebersamaan dan dialog dalam suatu sarasehan yang diwarnai oleh atmosfir Welas Asih ILAHI. Selaras dengan semangat para saudara komunitas Wewarah Gesang yang berkeinginan untuk senantiasa menghadirkan ajaran kehidupan universal sebagai penghayat keyakinan terhadap TUHAN YME.

Penulis pun sebagai orang Jawa yang Muslim dan diundang dalam sarasehan itu memberikan tanggapan positif atas pertanyaan di muka. Realitas bangsa Indonesia saat ini memang semakin majemuk. “Blended by nature and harmonized by GOD”. Dan budaya JAWA adalah wujud nyata sentuhan Sifat dan Kasih TUHAN yang paling purba di muka bumi. JAWI adalah “Jiwa kang Kajawi”. Ia adalah spirit cinta kasih murni yang mengejawantah dalam tatanan lahiriah. Mulai dari simbol, bahasa, pengetahuan, arsitektur hingga busana serta adat istiadat.

Seperti halnya sifat CINTA yang abstrak, maka budaya Jawa mampu menafasi segala entitas budaya lainnya hingga tradisi ajaran agama samawi. Jawa adalah ekspresi dari kedalaman dan keluasan “Samudera Menang Kalbu” yang tak terbatas. Tak heran bahwa Jawa yang menjiwai Nusantara ini mampu menampung semua ajaran dan kreatifitas manusia di muka bumi. Jawa menjadi surga yang nyata di dunia. Terlebih bahwa pada kenyataannya populasi masyarakat Jawa (Nusantara) kini memiliki darah Leluhur yang bercampur baur akibat dinamika sejarah dan interaksi dunia. Seringkali bahwa orang Jawa saat ini sangat dimungkinkan memiliki darah Arab dan Trah dari Kanjeng Nabi SAW hingga darah Tionghoa, Kamboja bahkan Eropa.

Percampuran dan perbedaan identitas pun tak bisa dielakkan dalam masyarakat yang berbudaya Jawa. Maka keanekaan bukan menjadi faktor pemisah jiwa bagi orang Jawa. Mengapa? Karena landasan spiritual nya adalah sederhana sekaligus inti dari inti ajaran keyakinan itu sendiri, yakni kepercayaan kepada TUHAN Yang Maha Esa. Ini yang diajarkan oleh Islam sebagai ajaran TAUHID. Yakni menyaksikan Yang Satu dalam Keberagaman dan menyaksikan Keberagaman dalam Yang Satu. Selaras dengan makna “Bhineka Tunggal Ika”. Sehingga ajaran Rasulullah MUHAMMAD SAW di tanah Jawa begitu subur dan menjadi mayoritas dikarenakan keselarasan prinsip dasar tersebut yang menjadi Sila Pertama PANCASILA. Manusia bisa beragama tanpa kehilangan ke-Jawa-an nya sama sekali.

Upaya penguatan lembaga kepercayaan terhadap TUHAN YME oleh karenanya menjadi harapan besar dan cahaya penerang bagi umat. Kehadiran masyarakat penghayat adalah bagai embun pagi yang menyegarkan suasana batin bangsa. Laksana oase di tengah padang pasir kegersangan jiwa yang bisa direguk oleh setiap musafir kehidupan. Tidak mengherankan bahwa Malang Raya menjadi pusat pergerakan kepercayaan. Karena eksistensinya yang kaya akan sumber air jernih yang oleh penulis selalu digaungkan sebagai Mata Air Peradaban.

Kesadaran purba “Mala Angkusha Isywara” (kebathilan runtuh oleh TUHAN) adalah kesadaran aliran air suci Tirta Perwita Sari Daya WELAS ASIH ILAHI. Dimana memurnikan kekeruhan batin manusia akibat sampah emosi (amarah, dendam, trauma, sakit hati) dan kepentingan sesaat (politik identitas dan kekuasaan). Saat batin jernih, maka pikiran dan perasaan menjadi kaca pemantul sabda TUHAN yang menyadarkan hakekat manusia yang berasal dari SATU JIWA (Nafsin Wahidah) serta selalu menjadi penyaksi bagi ke-ESA-an NYA.

Otomatis batin yang demikian nir dari syak wasangka dan tulus berempati untuk menyatu rasa dengan sesama. Orang Jawa mengatakannya sebagai MANUNGSA “yoiku Manunggal ing Rasa”. Jauh dari “miss komunikasi”, kedangkalan pikiran dan sumbu nafsu yang pendek. Inilah mengapa budaya Jawa memiliki sifat adaptif yang super lentur. Terutama bagi aneka simbol dan ajaran di seluruh dunia, karena Jawa sejati adalah Jiwa bagi semesta.

Sangat menarik pula dalam sarasehan Sam WES selaku narasumber di ujung paparan mengkritisi kata WARISAN yang acapkali digunakan menyertai kata BUDAYA. Akitivis sosial budaya Malang Raya itu bahkan agak radikal mengajak untuk meninggalkan kata WARISAN dikarenakan berkonotasi sebagai “materi yang diperebutkan”. Berkaca dari realitas sosial, warisan materi memang seringkali menjadi pangkal persoalan manusia. Oleh karenanya menurut Sam WES lebih tepat jika kata WARISAN digantikan menjadi SPIRIT. Agar bangsa ini lebih mengutamakan pewarisan aspek kesadaran ruhani dibandingkan terjebak dalam perebutan eksistensi dan materi seperti yang selama ini umum terjadi.

Penulis bisa memahami pendapat tersebut, namun juga sekaligus menawarkan kesadaran ulang akan makna WARISAN BUDAYA yang sesungguhnya. Sejatinya opini Sam WES muncul dikarenakan menyaksikan realitas. Dimana sebagian budayawan yang melupakan makna budaya sebagai wujud kumparan energi spiritual dan pengetahuan leluhur yang semestinya dilestarikan. Akibatnya bukan esensi yang didapatkan namun justru konflik yang hadir menodai persaudaraan, persahabatan, pertemanan dan interaksi kemanusiaan. Ini sangat dimaklumi, namun memang tetaplah kita harus selalu kembali memahami arti budaya sendiri.

Pergeseran realitas tidak seharusnya meninggalkan makna hakiki kata budaya. Yakni keseluruhan cara hidup yang diciptakan, dipelajari, diwariskan, dan dikembangkan oleh manusia sebagai hasil olah cipta, rasa, karsa, dan karya untuk mengatur kehidupan bermasyarakat. Jadi esensi budaya adalah spiritualitas. Tidak bisa dikatakan sesuatu itu berbudaya jika menanggalkan spirit atau jiwa yang mengubah tatanan kehidupan masyarakat menjadi harmonis dan lebih baik. Bukankah kata “lebih berbudaya” berarti menjadi “lebih baik” yang mengandaikan kehalusan spiritual (jiwa)? Bukan ditandai dengan kekeruhan “korslet” batiniah yang justru meraja? Budaya berbeda dengan penyakit sosial. Penyakit adalah penyakit yang harus diobati. Kemampuan mengobati penyakit itulah makna kecanggihan berbudaya.

Walhasil komunitas Wewarah Gesang berhasil menghadirkan sarasehan yang begitu istimewa bagi perkembangan kebudayaan di kota Malang khususnya. Dan kesadaran bangsa Indonesia pada umumnya. Pada akhirnya semangat kepercayaan terhadap TUHAN YME adalah dasar perjalanan MANAH (pikiran, hati, jiwa) orang Jawa (Nusantara). Guna semakin menjernihkan pikiran, mensucikan hati dan menyempurnakan jiwa dikarenakan penyaksian atas ke-ESA-an Sang Hidup. Ia adalah dasar karakter sejati berupa “Manah Sae kang Suci” yang menuntun bagi ketulusan dan perbaikan perilaku manusia sehari-hari tanpa henti. Betapa sejuk, dinamis, damai dan tentramnya hati. Menjadi ekspresi teduh wajah penghayat sejati…..

Salam Satu Jiwa
Salam PANJI, Panah Jiwa

Penulis:
Pamanah, Budayawan, Musisi, Alumnus Filsafat UGM, anggota KAGAMA Malang Raya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?