Usap Tangis Ibu Pertiwi, Ngalap Daya Leluhur Nagari, catatan Wibie Maharddhika
Jemparingan Pangruwatan Songsong Pitulasan di Situs Kuna Kali Mewek Malang Raya
Sejarah Kali Mewek ternyata jauh lebih kuna dari jaman Kerajaan Tumapel (Singhasari), yakni sudah ada sejak era Mataram Kuna. Tersebut dalam penggalan isi prasasti Wurandungan B :
“…muang ikanang lmah gaga i panawijyan, inasuwak mapararitan adawa saking sor ing gunung brahma arjuna amutus ing panawijyan, winangun gaga sawah dening rakryan pu uda mapan i parhyangan i panawijyan mangkana matanyan sinima…”. Kurang lebih artinya, “…dan adapun tanah gogo (lahan kering) di Panawijen, dibuatkan suwakan (saluran air/kanal yang memotong aliran sungai utama) berupa parit panjang yang ditarik dari bawah lereng Gunung Brahma Arjuno hingga memutus (berujung) di Panawijen. Dibangunlah ladang-ladang kering itu menjadi sawah (basah) oleh Rakryan [Kanuruhan] Pu Uda, dikarenakan adanya tempat suci (parhyangan) di Panawijen. Oleh karena demikian itu maka tanah tersebut dijadikan sima (daerah bebas pajak)…”
Sistem pengairan yang dibangun pada masa Sri Maharaja Sindhok diambilkan dari sebuah “suwakan”, yaitu sebuah irigasi buatan yang diambil dari sungai induk. Sungai induk yang di “suwak”. Kata “suwak” jika diucapkan dalam bahasa Jawa adalah “suwek”. Sementara sungai yang mengalir dari Barat ke Timur di daerah tersebut dinamakan sungai “Masuwak” atau “Masuwek” akhirnya menjadi “Mawek” yang berarti disuwek/dirobek/disudet. Di kemudian hari disebut masyarakat dengan “Mewek”. Ini adalah karya besar Leluhur yang secara nalar kekinian tidak masuk akal dikerjakan di jaman itu, namun “ajaib” bisa berhasil dilaksanakan.
Ada pun kisah lain menyebut bahwa “Mewek” berarti suara tangis Ken Dedes. Dialah Sang Prajna Paramita dikarenakan penculikan atas dirinya oleh Tunggul Ametung. Sungai tersebut menjadi saksi peristiwa yang mewarnai drama asal usul berdirinya Kerajaan Tumapel. Cerita kedua ini lebih masyhur dan menjadi dasar ingatan warga Tunjung Sekar hingga kini.

Menjelang HUT KEMERDEKAAN RI ke 81, keluarga besar LASKAR PANJI SURYANEGARA Indonesia di Malang Raya yang terdiri dari Bregada PANJI LINTANG SANGA, Bregada PANJI BANYU LANGIT dan Bregada PANJI TUNJUNG SEKAR berniat mengadakan kegiatan “Hanjemparing Wayah Wengi” (HANJAWANI) di situs maha kuna pinggir KALI MEWEK yang kini menjelma menjadi taman wisata BAMBOO MEWEK PARK Tunjung Sekar, Lowokwaru, Malang. Tepatnya pada hari Sabtu Wage, 15 Agustus 2026 pukul 19.00 sd selesai. Ini terbuka untuk umum dan akan diisi juga dengan kidung, doa dan macapatan guna semakin khidmat dan semaraknya acara.
Jemparingan gagrak PANJI MATARAMAN yang akan dilaksanakan bukanlah sekedar aktivitas panahan tradisional biasa. Kata PANJI selain untuk meluhurkan asma Sang Panji Asmarabangun dari Kerajaan Jenggala yang mendunia, juga dimaknai singkatan dari “Panah Jiwa”. Ia adalah wujud doa dari lubuk hati dan jiwa terdalam (MANAH). Secara khusus setiap Jemparing (anak panah) yang melesat mengandung niat “Manah Sae kang Suci” atau memohon anugerah kesucian pikiran, hati dan jiwa.
Dalam tradisi INORGA PERPATRI Nusantara Jaya setiap Pamanah melepas 4 buah Jemparing. Hal ini lebih jauh oleh LASKAR PANJI SURYANEGARA diniatkan untuk melepaskan 4 sampah emosi manusia. Yakni rasa amarah, dendam, trauma dan sakit hati atau kecewa yang membelenggu batin. Semua dilakukan dalam alur wiraga – wirama – wirasa hanjemparing di waktu malam yang meditatif, asyik, syahdu, damai dan merdeka sukacita melalui seni menikmati nafas (PANDENGAN) dan menata fokus mata (PANDENGAN).
Walhasil merenungkan hikmah atas sejarah situs Kali Mewek yang istimewa, maka acara panahan tradisional di muka akan menjadi malam doa tirakatan dalam bentuk yang berbeda. Saat segala sampah emosi pribadi Pamanah dilepaskan, maka kejernihan spiritual serta kebugaran jiwa raga akan terwujud. Ia menjadi energi, vibrasi dan frekuensi bercahaya yang memurnikan alam dan para jiwa semesta. Termasuk jiwa Sang Prajna Paramita serta para Leluhur lainnya yang masih terbelenggu penderitaan dan kegelapan. Tangis kesedihan Ibu Bumi Pertiwi pun berubah menjadi tangis haru syukur penuh kebahagiaan.
Olah Manah Jemparingan PANJI menjadi sarana ruwatan bagi diri, leluhur, bangsa hingga NGALAM semesta. Gerakan tradisional spiritual universal ini semakin nyata dibutuhkan masyarakat dan negara. Bahkan seluruh mahluk di dunia. Terlebih dalam situasi dan era yang disebut sebagai jaman akhir penuh dengan atmosfir dusta, penyelewengan, penyimpangan dan kepalsuan (Dajjal) ini. Yakni jaman yang sangat sulit memilah dan memilih antara kebenaran dan kebathilan tanpa petunjuk ILAHI sejati. Fenomena “artificial Intelligent” pun bisa menjadi pintu menuju surga atau pun neraka. Maka angkara murka dan ketamakan manusia yang menjadi akar penyakit dan kegelapan itu semua harus diruntuhkan dengan pertolongan Cahaya Maha Welas Asih TUHAN. Orang Jawa pun mengenal prinsip “Surodiro Joyoningrat lebur dening Pangastuti”. Selaras dengan makna kalimat pusaka “Mala Angkusha Isywara” atau MALANGKUCECWARA.
Jiwa yang murni, suci dan menyempurna (wannafsiw wama sawwaha) harus semakin dihidup kembangkan dan menjadi wadah yang layak menampung samudera cinta, sukacita, hikmah, pengetahuan dan kebijaksanaan langit guna “hambrastha dur angkara” yang merajalela. Dengan begitu para jiwa di masa kini sekaligus siap “ngalap berkah” akan daya kebajikan, kecerdasan dan kesaktian para Leluhur Nusantara. Karakter Ksatria Pinandhita Kekasih TUHAN nan sakti mandraguna luar biasa yang sejak dahulu telah masyhur di se antero jagad. Para prajurit TUHAN yang menggengam Busur Panah Cinta Sang Kamadewa. Inilah modal dan perintisan bagi terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045. Generasi yang mengusap tangis Ibu Pertiwi dan digdaya menjadi Ratu Adil dunia guna mempercantik keelokan semesta (Hamemayu Hayuning Bawana). KUN FAYAKUN !
Salam Satu Jiwa
Salam PANJI, Panah Jiwa
Salam Sehat, Bugar, Gembira, Luar Biasa
JLEB, klinthing….
Wibie Maharddhika
Ketua Umum LASKAR PANJI SURYANEGARA
Ketua Umum PERPATRI Nusantara Jaya Kota Malang
Koordinator Divisi Kebudayaan PERPATRI Nusantara Jaya Provinsi Jawa Timur
