Trauma Bangsa, sampai Kapan? Sebuah Renungan di Hari Pahlawan, Catatan Wibie Maharddhika
Tengah malam bertempat di joglo langgar padepokannya, Kyai saya yang pertapa pernah sampaikan dengan lirih saat berkisah tentang dinamika masa lalu Kerajaan di tanah Jawa,”Sejarah Mataram itu mengerikan, mengerikan, mengerikan”. Kata “mengerikan” Beliau ulang hingga tiga kali di sela-sela nafas halusnya. Dan sungguh benar kengerian-kengerian kemanusiaan itu tampaknya sudah membekas di jiwa para leluhur terdahulu. Sesuatu yang hingga kini mempengaruhi emosi bawah sadar generasi-generasi setelahnya. Menciptakan dinamika sejarah yang walhasil tak luput dari kengerian-kengerian pula.
Mari kita secara ksatria hadapi itu semua.
Mumpung saat ini kita masih diberi nafas hidup, tentunya fitrah jiwa merdeka kita pun bertanya.”Sampai kapan aku dan bangsaku terkena bias amarah, dendam, iri, dengki, benci, sesal dan kekecewaan masa lalu?”. Mungkinkah kita bisa sepenuhnya memaafkan diri sendiri serta leluhur kita tersebut? Mungkinkah kita bisa bebas dari belenggu “penjajahan” hakiki yang menginjak-injak jiwa? Mungkinkan kita bisa memerdekakan dan menyempurnakan jiwa segera? Bukankah Tuhan telah Berfirman,”Demi Jiwa dan penyempurnaannya” (wannafsiw wama sawwaha)?. Sampai kapan kita tak tertarik untuk sungguh-sungguh memperjuangkan kesempurnaan jiwa dan membiarkan energi, vibrasi serta frekuensi masa lalu menghantui diri dan generasi anak-anak kita?
Tidak perlu kuatir untuk lupa, karena sebagai bagian dari keseimbangan semesta, informasi kisah sejarah di setiap jaman pasti mengalami pengkayaan cerita. “Both side stories” akan selalu hadir sebagai reaksi atau respon atas suatu persepsi. Bacaan positif atau negatif tentang tokoh atau suatu kejadian pasti tak akan berkurang. Bahkan bertambah untuk wawasan generasi. Sejarah jelas tidak boleh dilupakan agar diri dan generasi semakin bijak mengambil pelajaran serta mampu menyelaraskan ego kepentingan sesuai konteks ruang waktunya.
Maka, walau mungkin sebagian orang mengatakan “naif”, namun nurani yang menginginkan kedamaian jiwa pasti selaras dengan filosofi MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO. Itu adalah tuntutan lubuk hati terdalam bagi manusia yang semakin ikhlas, waras dan cerdas untuk menghayati kefanaan dunia. Tentu saja pikiran tidak boleh lupa akan fakta-fakta pedoman masa lalu, namun jiwa-jiwa tidak boleh terus melekat dan terbelenggu. Jiwa jiwa justru semakin yakin bahwa kedahsyatan dan kelapangan ruang maaf yang bersumber dari rahmat welas asih TUHAN, tidaklah akan mengkaburkan bacaan masa lalu untuk memetik nilai kehidupan yang ada.
Ini jelas tidak mudah. Bahkan inilah perjuangan dan jihad terbesar hidup. Kemampuan memaafkan orang lain adalah tanda bahwa seseorang telah mampu memaafkan dirinya sendiri. Tanda bahwa seseorang telah merdeka dari trauma dan fokus melakukan pembenahan diri. Bayangkan jika setiap jiwa melakukan itu, sungguh pasti terciptalah babad baru yang lebih bermutu akibat dorongan nurani yang suci untuk bersinergi berkolaborasi dalam gerak energi, vibrasi dan frekuensi yang semakin selaras penuh harmoni. Sekali lagi tak perlu risau, karena ini bukan melupakan sejarah sama sekali. Ini hanya cara ALLAH semakin Menaikkan level kesadaran manusia dalam membaca kisah maupun sebuah tragedi.
Mari terus kita mulai wahai diri…..
Pangeran Panjenengan Dandosi kula niki…
Lahir batin sarana Manah sae kang suci…..
You may say I’m a dreamer…
But I’m not the only one…
