journeyTravel

Peringkat Destinasi Dunia terhadap Bali, turun atau tetap juara, Catatan Harry Waluyo

Bali kembali menjadi perbincangan hangat. Beberapa waktu lalu, sejumlah media lokal dan internasional ramai memberitakan bahwa “Bali terlempar ke peringkat 6” dalam daftar pulau terbaik dunia versi pembaca Condé Nast Traveler 2025. Di sisi lain, sumber resmi dari Condé Nast justru menunjukkan bahwa Bali masih menduduki posisi teratas dalam kategori Asia.

Dua klaim yang bertolak belakang ini memicu kebingungan publik dan bahkan kekhawatiran pelaku industri pariwisata. Apakah benar Bali kalah dari Phu Quoc, Langkawi, atau Boracay? Ataukah ini hanya persoalan kutipan yang tidak teliti? Untuk menjawabnya, kita perlu mundur selangkah, menelusuri data primer, bukan sekadar opini atau artikel turunan.

Membedah Peringkat: Beda antara Judul Sensasional dan Pengumuman Resmi

Readers’ Choice Awards adalah survei tahunan Condé Nast Traveler yang melibatkan ratusan ribu pembaca dari seluruh dunia untuk memilih destinasi terbaik. Metodologinya jelas pembaca memberikan penilaian pada berbagai kategori seperti pulau, kota, maskapai, dan hotel, lalu skor dihitung untuk menentukan peringkat akhir.

Tahun 2025, halaman resmi Condé Nast Traveler menampilkan Bali sebagai salah satu pemenang utama kategori “Top Islands in Asia”, dengan skor pembaca yang sangat tinggi . Sementara itu, beberapa situs berita lokal dan regional menyebut Phu Quoc (Vietnam) sebagai peringkat pertama dan Bali turun ke posisi keenam — namun jika ditelusuri, banyak dari berita ini tidak menyertakan tautan atau dokumen resmi Condé Nast, dan kemungkinan mengutip kategori yang berbeda atau hasil survei parsial.

Perbedaan seperti ini sering terjadi dalam industri media pariwisata. Satu situs bisa mengutip “Pulau terbaik Asia”, situs lain bisa menulis “Pulau terbaik dunia”. Dan yang lain lagi hanya fokus pada subkategori tertentu (misalnya “pulau dengan pertumbuhan tercepat”). Tanpa verifikasi langsung ke pengumuman resmi, klaim seperti “Bali jatuh ke peringkat 6” mudah berkembang menjadi narasi keliru yang membentuk opini publik.

Bali: Brand Kuat, Tapi Tekanan Nyata

Di luar urusan peringkat, data resmi menunjukkan satu hal jelas: Bali tetap menjadi magnet wisatawan internasional.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali pada Desember 2024 mencapai 551.100 orang, naik 16,54% dibandingkan November . Total kunjungan sepanjang tahun itu mencapai jutaan wisatawan, menandakan pemulihan penuh pasca-pandemi COVID-19.

Namun, angka besar ini juga membawa konsekuensi. Dalam beberapa tahun terakhir, Bali menghadapi sejumlah tekanan serius: kemacetan lalu lintas, penumpukan sampah. Serta pembangunan berlebih di kawasan padat seperti Kuta dan Ubud, serta penurunan kualitas pengalaman wisata akibat overtourism. Pemerintah Provinsi Bali bahkan mulai menerapkan pajak turis dan aturan perilaku wisatawan untuk meredam dampak negatif tersebut.

Laporan internasional seperti Time dan The Guardian juga menyoroti “paradoks Bali”: di satu sisi tetap menjadi destinasi impian. Di sisi lain mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan akibat tekanan massal .

Phu Quoc, Langkawi, dan Koh Samui: Pesaing Baru yang Serius

Sementara Bali bergulat dengan isu pengelolaan, sejumlah destinasi Asia Tenggara bergerak cepat. ,Phu Quoc (Vietnam), misalnya, sedang mengalami lonjakan pembangunan infrastruktur dan kampanye promosi digital internasional yang sangat agresif. Pemerintah Vietnam menargetkan pulau ini menjadi “Bali baru” dengan dukungan penuh negara, rute penerbangan internasional baru, dan promosi wisata skala besar .

Hal serupa terjadi di Langkawi (Malaysia) dan Koh Samui (Thailand), yang memanfaatkan momentum pasca-pandemi untuk memperbaiki kualitas layanan dan menargetkan segmen wisatawan bernilai tinggi. Dengan strategi yang tajam, mereka berhasil masuk radar global pembaca Condé Nast dan pelaku industri internasional.

Persaingan ini bukan sekadar soal “peringkat majalah”, melainkan cerminan nyata dari pergeseran peta pariwisata Asia Tenggara. Bali bukan lagi satu-satunya bintang. Pesaing baru siap menantang dominasi yang telah puluhan tahun dipegang pulau dewata.

Kebijakan dan Respons Pemerintah: Tanda-Tanda Perubahan

Pemerintah Indonesia menyadari persoalan ini. Beberapa langkah strategis mulai diambil:

Moratorium pembangunan hotel di kawasan tertentu untuk mencegah overdevelopment.

Pajak turis dan aturan perilaku bagi wisatawan asing yang mulai diterapkan tahun 2024.

Diversifikasi destinasi di luar Kuta–Ubud untuk mendorong wisata ke wilayah-wilayah lain di Bali dan Nusa Tenggara.

Rencana pengembangan infrastruktur hijau dan pengelolaan sampah terpadu jangka panjang .

Langkah ini masih tahap awal, namun menunjukkan kesadaran pemerintah bahwa keberhasilan pariwisata tidak lagi diukur hanya dari jumlah wisatawan. Melainkan dari nilai ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan pengalaman wisata.

Rekomendasi: Dari “Volume” ke “Nilai”

Berdasarkan data primer dan tren global, berikut beberapa langkah strategis yang realistis untuk memastikan Bali tetap relevan di peta pariwisata dunia:

Verifikasi dan Komunikasi Resmi
Pemerintah daerah dan asosiasi pariwisata perlu segera mengeluarkan pernyataan resmi yang mengklarifikasi posisi Bali dalam peringkat internasional. Informasi yang akurat akan mencegah disinformasi berkembang dan menjaga kepercayaan pasar internasional.

Kampanye “Quality Tourism”
Fokus pada promosi wisatawan bernilai tinggi: wellness tourism, cultural immersion, ekowisata, dan MICE. Strategi digital harus terukur dan berbasis data pasar, bukan sekadar promosi massal.

Redistribusi Wisatawan
Kembangkan destinasi alternatif di luar kawasan padat untuk mengurangi tekanan dan memperluas manfaat ekonomi ke masyarakat desa.

Investasi Infrastruktur Hijau
Masalah sampah, air limbah, dan kemacetan harus diselesaikan dengan teknologi dan tata kelola yang tegas — bukan sekadar himbauan.

Pengaturan Kapasitas Kunjungan (Carrying Capacity)
Menentukan kuota dan batas kunjungan untuk situs-situs rapuh (misalnya Pura Besakih, Tanah Lot, atau Ubud) akan menjadi langkah jangka panjang penting untuk menjaga daya tarik Bali.

Kesimpulan: Kekuatan Data Primer di Tengah Opini Publik

Narasi bahwa “Bali terlempar ke peringkat 6” adalah contoh klasik bagaimana informasi sekunder yang tidak diverifikasi dapat membentuk persepsi publik, bahkan kebijakan. Data primer dari Condé Nast dan BPS menunjukkan kenyataan yang lebih kompleks. Bali masih menjadi destinasi unggulan, namun sedang menghadapi kompetisi regional yang ketat dan tantangan pengelolaan internal.

Masa depan Bali tidak ditentukan oleh satu peringkat majalah, melainkan oleh kecepatan dan ketepatan kebijakan dalam menjaga kualitas destinasi. Dengan strategi yang cerdas dan berbasis data, Bali bisa tetap menjadi juara. Sehingga bukan hanya di mata pembaca majalah, tetapi juga dalam realitas industri pariwisata global.

Daftar Sumber Primer

Condé Nast Traveler. (2025). Readers’ Choice Awards 2025 — Top Islands in Asia. [Situs Resmi Condé Nast Traveler]

Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. (2025). Jumlah Wisatawan Mancanegara ke Bali per Bulan. [https://bali.bps.go.id]

Vietnam Tourism Board. (2025). Phu Quoc Tourism Development Strategy. [Laporan resmi & media lokal]

Time dan The Guardian. (2024–2025). Artikel tentang overtourism dan kebijakan Bali .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?