Art and Culturemaestro

In memoriam Tante Lien, lirik lagu Jowo Nglondo, Kil Kil Njonh, penyanyi legend Wieteke Van Dort, catatan Dwi Cahyono

A. Penyanyi Legend Jowo-Nglondo Wieteke van Dort

Bagi generasi transisi dari Hindia-Belanda ke Indonesia, tidak sedikit daripadanya yang mengenai Wieteke Van Dort, yakni seorang artis Belanda keturunan Indo (Eurasia). Seniwati komedian ini lahir di Surabaya pada 16 Mei 1943. Manakala masa Pendudukan Jepang (1942-1945), sebagai anak bungsu kedua diantara empat faru bersaudara pasangan Theo van Dort.(pengurus pabrik gula di Surabaya) dengan Bernardine Soesman (sutradara pang- gung). Menilik unsur nama dari ibunya, yaitu “Soesman”, ia terlihat memlikii “darah pribumi’ Indonesia. Tragis, ayahnya sempat dipenjarakan oleh pemoeda dari rumahnya pada tanggal 8 Oktober 1945, dan tidak lama kemudian (13 Oktober 1945) dibunuh di alon-aloon desa. Lantas Ibunya menikah kembali pada tahun 1952 dengan pemilik pabrik karet di Surabaya, Louis Rommelaar. Selama berada di Surabaya, ia bersekolah di dua sekolah dasar, dan melanjutkan ke HBS. Lantaran kebijakan “Nasionalisasi” di era Orde.Lama, maka keluarganya terpaksa berpindah dan menetap di Den Haag tanpa meninggalkan properti apapun di Indonesia

Nama panjang darinya adalah Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort, populer dengan panggilan “Wieteke” atau “Tante Lien”. Wieteke adalah seniwatii multi talenta, yakni komedian, penyanyi dan sekaligus penulis. Sebagai Indo (Eurasia), Tante Lien banyak tampil di program televisi anak-anak dan mendapat popularitas lantaran karakternya Indo (Belanda-Indonesia), utamanya pada serial TV bertajuk “The Late Late Lien Show”. Tak tanggung-tanggung, du- rasi tayang serial ini hingga memcapai tiga musim (berakhir tahun 1988), dengan jam ta- yang utama pada Televisi Belanda. Acara ini adalah satu-satunya programa televisi yang khusus menampilkan budaya Indo, dan mem- perkenalkan banyak artis serta musika Indo kepada khalayak di Belanda.

Berkat perannya didalam serial TV itu, maka pada tahun 2007 ia dianugerahi Medali Perak Merit oleh Menteri Pertahanan Belanda. Pada ta-hun yang sama, ia menfapat penghargaan “Victorineb Hefting Award”. Demikian besar jasa Wieteke di bidang kesenian dalam kurun waktu panjang (1968-2024), sampai-sampai pada tanggal 29 April 1999 Ratu Beatrix meng- angkatn sebagai Ksatria “Orde Oranye-Nassau”. Tidak sedikit dari lagu-lagunya yang berbahasa Indonesia yang tercampur dengan bahasa Nederland dan Jawa. Bahkan, ada yang liriknya full berbhasa Jawa, seperti yang akan ditelaah berikut. Beberapa lagunya dikenal oleh seba- gian warga di Indonesia, antara lain “Geef mij maaf Nasi Goreng, Hallo Bandoeng, Toeam dan Njoja, Krintjong Kemajoran, Nina Bobo, Terang Boelan, Boeroeng Kaka Tua, Sarina, Boelan Pake Pajung, dsb.”.

Pada sekolahnya di Den Haag, Wieteke terlibat dalam koran dan teater sekolah. Mewarisi mi- nat dan bakat Ibunya, ia juga tertarik di dunia akting, Pada tahun 1958 terbitlah 17 puisi buah karyanya, yang sengaja ia didedikasikan buat ibunya). Selain itu ia muncul di surat kabar dan radio sebagai “penyair termuda di Belanda”. Gadis muda ini meninggalkan sekolah menengahnya pada Johan de Witt Lyceum tanpa ijazah. Lalu di tahun 1962 dan 1963 bersekolah di Toneelgroep Rederijkers (Akademi Seni drama). Namun dia menyelesaikan kursus drama ini tanpa ijazah.

Saat berada di akademi itu ia berperan sebagai Laura Wingfield pada penampilan “The Glass Menagerie”. Tidak sampai tamat, pada tahun 1964 Wieteke keluar dari aka- demi itu, lantaran ia menandatangani kontrak dengan Nieuwe Komedie/Toneelgroep arena padamana ia menonjol sebagai Juliet di drama “Romeo dan Juliet”. Terhitung sejak tahun 1968 ia bergabung dengan “Kabaret ABC” sebagai komedian, dumana ia memperoleh pengalam- an dalam bermain kabaret. Sejak tahun 1968 ini hingga akhir hayatnya Tante Lien malang melintang di kesenian hingga akhir nyatanya. Tahun. Lalu, tepatnya di tanggal 15 Juli 2024 Tante Lien meninggal dunia di Den Haag de- ngan dikarunia usia panjang (81 tahun).

B. Lirik dan Arti Lagu Jawa “Kil Kil NJONG”

Lantaran tercipta dari seorang Indo dan dita- yangkan pada stasun TV Belanda tahun 1979 untuk suatu programa khusus bagi kaum Indo (Eurasia), maka meskipun judul jagu komis ini menggunakan bahasa Belanda yaitu “Kil Kil Njong” judul panjangnya “Si Kethek Kil Kil Njong”, najun seluruh liriknya berbahasa Jawa. Hal itu memberi petunjuk bahwa Wieteke yang pernah tinggal cukup lama (sekitar 13 tahun) di Surabaya, serta ditambah mamanya yang bles- teran Jawa – Belanda, menjadikan dirinya cukup tahu akan bahasa Jawa, kendati pelafalannya untuk kata-kata berbahasa Jawa didalam lirik lagu ciptaannya itu terdengar medok “Nglondo ,(kebelanda-belandaan)” dan dalam beberapa kata terindikasi salah ucap. Kendati demikian, secara keseluruhan bagi orang Jawa telah cu- kup untuk menangkap maksud dari kalimat- kalimat pada lirik lagunya.

Berikut adalah lirik lagunya dengan sedikit sedikit pembenahan dari dari penulis.

Kiil kli nong nong kil kil blung .
Si kethek atine bingung 
Wong ayu lenggang kangkung 
Si kethek njaluk ambung 
Kil kil nong nong blumg
Si kethek njaluk ambung 

 Kiil kli nong nong kil kil blung
 Si kethek ra iso turu 
 Ngiling-iling wong ayu 
 Si kethek ndase ngelu 
 Kiil kli nong nong blumg
 Si kethek ndase ngelu 

  Kiil kli nong nong kil kil blung
  Si kethek njaluk bojo 
  Sik ora entuk bojo
  Kethek ngangis gero-gero
  Kiil kli nong nong blung
  Kethek nangis gero-gero

.
Kiil kli nong nong kil kil blem
Wong ayu ora gelem
Si kethek nguntal peuyeum
Kokeyan nganti mendem
Kiil kli nong nong bleng
Si kethek dadi gendheng
Kiil kli nong nong bleng
Si kethek dadi gendheng
Kiil kli nong nong bleng
Si kethek dadi gendheng.
Kiil kli nong nong bleng
Si kethek dadi gendheng
Kiil kli nong nong bleng
Si kethek dadi gebdheng
.
Lirik lagu terdiri atas empat bait, yang masing- masing bait terdiri atas enam baris, dengan catatan dua baris terakhir adalah perulangan. Tergambar bahwa tokoh peran utama pada lirik lirik lagunya ini adalah (1) Si Kethek (kera) dan (2) Wong Ayu (wanita cantik).

Suatu kisah mengenai “kasih (cinta) tak sampai” dari Si Kethek ter-hadap Wong Ayu. Dalam bait pertama dikisahkan bahwa demi melihat Wong Ayu, maka tertariklah ia terhadapnya. Namun, Wong Ayu berlalu tanpa hirau padanya (lenggang kangkung). Dalam hati ada keinginan dari Si Kethek untuk menciumnya (njaluk ambung). .
.
Pada bait kedua diceritakan bahwa rasa as- mara Si Kethek pada Wong Ayu membuatnya tak bisa tidur (ra iso turu). Fiikirnya senantiasa teringat-ingat (ngiling- iling) pada Wong Ayu, sampai-sampai kepalanya pusing (ndase ngelu). Sekanjutnya bait ketiga menyatakan bahwa Si Kethek ternyatalah minta istri (njaluk bojo). Namun para kenyataannya Si Kethek tak ber- un-tung untuk menperistri Wong Ayu, hingga dia pun mengais pijar (nangis gero-gero).

Bait terakhir menggambarkan keputusasa-an Si Kethek, dengan melakukan tindakan naif, yaitu menelan peuyeum (tapai) hingga kebanyaikan (kakean). Akibatnya, sampai terserang mabuk (mendem), bahkan hingga jadi gila (gendheng). Demikianlah, Si Kethek terkena penyakit asma- ra “mabuk bahkan gila perempuan (mendem nganti gendheng wedokan)”. Meski lirik lagu ini cuma terdiri atas empat bait, namun telah cu- kup memberi gambaran tentang cinta konyol dari Si Kethek. Cinta yang tak setara antara Si Kethek terhadap Wong Ayu yang bagaikan kontras antara “Beauty and the Beast (Si Cantik dan Si Buruk Rupa)”, yaitu gambaran yang merujuk kepada perbedaan fisiografis mencolok antara dua insan yang menjadikan “kasih tak sampai”.

Kata” jil” pada bahasa Belanda berarti :su-ngai kecil (anak sungai). Ddalam bahasa Belanda kuno, “kille” berarti : dasar sungai atau ceruk. Adapun kata “Njong” secara ha-rafiah Njong” pada bahasa Belanda berarti : muda atau yang muda. Lebih detailnya, kata “Jong” adalah kata sifat dalam bahasa Belanda, yang berarti “muda” atau “anak muda, yang muda, atau yang lebih muda. Lalu, apakah yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Wieteke dengan membuat lirik lagu demikian itu?

C. Aspek Komis dalam Lirik Lagu “Kil KIl Njong”

Uniknya, lirik lagu “Kil Kil Njong” ditokohi oleh apa yang disebutinya dengan “Si Kethek”. Kata “kethek (kera), dan sebutan yang lebih kasar “bedhes” atau “munyuk”, yang di dalam istilah Jawa lama dinamai “wre”). Sebutan yang me- nunjuk kepada hewan mamalia ber-fisiografis serta acapkali berperilaku mirip mamusia. Peri- laku kera yang nakal dapat menjengkelkan, namun kadang pula mem-buat orang tersenyum simpul melihatnya, semisal pada pertunjukan “komedi bedhes”.

Sebagai seorang komedian, ketika menyanyikan lagu ini, mimik dan pantomimik Wieteke dimiripkan dengan kera, sehingga membuat para pemirsanya sontak tertawa. Sengaja ia pilih kata-kata yang komis untuk mengabarkan pirilaku naif dari Si kethek. Seperti “njaluk ambung (minta cium), ndase ngelu (kepalanya pusing), njaluk bojo (minta istri), menangis pijar (nangis gero-gero), mendem peuyeum (manuk tapai), dan nganti gendheng (hingga gila)”. Namun, apakah sebutan “Si Kethek” di dalam lirik lagu ini sungguh menunjuk pada binatang kera?

Boleh dibilang, asmara yang dikisahkan ini adalah apa yang acap diistilahi dengan “cinta monyet”. Yakni istilah informal yang merujuk kepada perasaan cinta romantis yang biasanya dirasakan oleh anak-anak atau remaja. Istilah ini seringkali dikaitkan dengan “cinta pertama” atau ketertarikan awal pada seseorang, yang seringkali bersifat “sementara” atau “kurang mendalam”. Cinta monyet pada umumnya dia- lami oleh anak-anak dan remaja di bawah usia 17 tahun. Perasaan cinta ini seringkali didasari oleh ketertarikan fisik dan emosi yang be-lum matang. Cinta monyet seringkali berbeda de- ngan cinta sejati, yang melibatkan kedewasa- an, komitmen, serta pemahaman yang lebih dalam tentang pasangan. Istilah “cinta monyet” juga bisa dipakau untuk menyindir seseorang yang kurang serius dalam menjalin hubungan. Namun, penting untuk diingat bahwa cinta monyet adalah bagian normal dari pengalaman masa remaja. Dan bisa menjadi pembelajaran yang berharga dalam memahami perasaan dan hubungan interpersonal.

Demikianlah salah satu lagu yang liriknya di- ciptakan sekaligus dinyanyikan oleh. Wieteke. Lewat lagu ini, Tante Lien memperlihatkan ke- cintaannyapada Indonesia, negeri pada mana ia pernah belasan tahun tinggal bersama keluargaanya di masa kecil. Bahasa Indonesia maupun Jawa “medhok”-nya memberi petunjuk bahwa ia cukup faham dengan bahasa Jawa ngoko. Sebagai pengalamannya tinggal di Surabaya serta sebagai perempuan Indo (Eurasia), meski telah lama menetap pada Negeri Belanda (Den Haag). Ada ekspresi kecintaan dan kerinduan kuatnya terhadap Indonesia ketiika tengah me- nyanyikan lagu-lagunya. Ternyata, tak sedikit orang ndonesia masa kini, bahkan yang beru- sia muda sekalipun yang merasa tertarik pada lagu-lagunya.

Terima kasih “Tante Lien”, lewat lagu-lagumu “penjajahan (imperalume – kolonialisme” VOC lantas Hindia-Belanda menjadi tidak berasa “menyakitkan”. Bahkan seperti jadi penambah mitra saudara antar bangsa. Semoga lagu ini memberi inspirasi dalam berolah kreasi seni. Nuwun.

Griyajar CITRALEKHA,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?