Art and Cultureperformance

Satu lagi Ruang Seni Rupa di Malang, Hamur Art Space yang hommy.

Dunia seni rupa di Malang saat ini bergeliat ke arah yang makin membaik. Sejak munculnya Mason Art Gallery dan Pameran Seni Rupa Mahwetan beberapa waktu lalu. Keduanya tampil menempati bangunan heritage, ternyata menginspirasi seniman lainnya. Kali ini seniman senior Munir Kahar dan Agni Pertiwi berkolaborasi memanfaatkan bangunan lawas pula.

Bertempat di jalan Cisadane nomor 11 A Malang, berdiri sebuah ruang pamer yang diberi nama Hamur Art Space. Hal ini merujuk pada keberadaan rumah keluarga Moonear Khar (nama artis Munir di Amerika Serikat) yang sudah hampir 12 tahun tak termanfaatkan. Berbekal dengan pengalaman mengelola ruang kreatif, maka disulaplah rumah keluarga tersebut menjadi art space yang manis. Tentu saja ini karena sentuhan Agni Pertiwi yang sejak awal memimpikan adanya art space yang hommy.

Pembukaan Hamur Art Space diawali dengan pameran bertajuk Cikal. Dibuka pada tanggal 28 Juni 2025 dan akan berlangsung hingga tanggal 5 Juli 2025. Pada akhir pameran juga akan diselenggarakan Artist Talks. Pameran ini diikuti oleh 3 seniman yakni Purnomo Sigit, Tantar Matano dan Osydha Ramadhanna dengan kurator Goweng. Jam buka pameran mulai pukul 13.00 hingga 19.00 wib setiap hari.

Disela-sela pembukaan pameran Agni Pertiwi menyampaikan rasa bahagianya ketika rumah sahabatnya Munir kahar telah menjelma menjadi sebuah Art Space yang indah. “Ruang ars space ini hanya memanfaatkan ruang tamu dan garasi,” ujar Agni memamerkan Hamur Art Space kepada seniman yang hadir di malam pembukaan.

Terlihat banyak seniman dan pecinta seni hadir diacara pembukaan art space ini yang dibarengkan dengan pameran bertajuk Cikal. Nsmpak hadir bung Antoni Wibowo, Tomi, Ale, Jonny dan lainnya. Nampak juga penikmat seni yakni Beny Ibrahim, Agung H. Buana, Abdul Malik dan banyak tokoh seniman muda lainnya.

Hamur art space dalam keterbatasan dan kesederhanaannya namun menyimpan optimisme energi tersembunyi, mencoba merintis awal peran sertanya dalam atmosfir ke senirupa-an di kota Malang, tulis Goweng pada kuratorial Pameran Cikal ini. Berikut beberapa gagasan yang dikemukakannya untuk hamur art space.

Gagasan tentang ruang alternatif sebagai elemen dari sebuah entitas ekosistem senirupa menjadi kebutuhan mengingat peran serta fungsinya selain sebagai agen transformasi sosial melalui aktivitas seni berupa dialog sosial dimana proses kolaboratif dan partisipatif yang terjadi secara tidak langsung dapat menumbuhkan nilai-nilai kolektif juga sebagai ruang apresiasi artistik, edukasi serta pertukaran/penguatan ide/gagasan dan sebagainya.

Ketika ruang – ruang publik tampak terasa homogen dan aktivitas seni yang berkebutuhan khusus tak lagi terakomodasi dalam kebijakan fasilitasi, ruang-ruang alternatif yang lebih fleksibel dapat menjadi jawaban sekaligus kontributor dan penyeimbang atmosfir sosio kultural. Di mana perannya yang signifikan dalam memfasilitasi kebutuhan perupa dalam mengkomunikasikan karya dan masyarakat sebagai apresiator. Terlepas dari stigma parameter ruang pameran yang selama ini menjadi acuan. (agper)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?