Kronika Stadion Tertua di Indonesia dalam Satu Abad Stadion Gajayana Kota Malang
Tahun 2025 menjadi tahun penuh torehan bersejarah bagi Kota Malang. Di usia 111 tahun yang penuh makna filosofis, Kota Malang menerbitkan sebuah karya monumental: buku “Satu Abad Stadion Gajayana Kota Malang” yang mengabadikan perjalanan panjang stadion olahraga tertua di Indonesia yang masih berdiri hingga hari ini. Sungguh dapat pula menjadi kado atas Tiga Momentum Bersejarah di tahun 2025 bagi Kota Malang. Hadiah Istimewa ini meliputi rangkaian peringatan HUT ke-111 Kota Malang dan Perayaan Kota Kreatif Dunia UNESCO serta tentu saja peristiwa seabad Stadion Gajayana.
Penerbitan buku ini menandai tiga peristiwa penting bagi Kota Malang tahun ini. Pertama adalah HUT ke-111 Kota Malang dimana angka 111 memiliki makna filosofis mendalam. Ibaratnya angka 1 pertama melambangkan Esa (Satu) dalam Berketuhanan, lalu angka 1 tengah menyimbolkan Kepemimpinan baru yang resmi dilantik di tahun ini, dan angka 1 terakhir mencerminkan Kesatuan Kolaborasi yang mendorong pembangunan Kota Malang. Kedua, adanya Pengakuan UNESCO sebagai Kota Kreatif Dunia. Pada 30 Oktober 2025 lalu, UNESCO resmi mengakui Malang sebagai Kota Kreatif Dunia. Penerbitan buku ini menjadi bagian dari perayaan pencapaian gemilang tersebut.
Kedua, peristiwa Satu Abad Stadion Gajayana. Stadion tertua di Indonesia ini telah berusia 100 tahun, menyimpan jejak sejarah dari era kolonial hingga masa kini. Buku ini merupakan hadiah ulang tahun dari para penulis Kota Malang untuk merayakan HUT ke-111 Kota Malang. Sebuah kontribusi nyata dalam membangun Kota Malang melalui dokumentasi sejarah yang komprehensif.
Penulisan buku ini dikerjakan oleh sekitar 40 penulis di Kota Malang. Sebuah proyek kolaboratif yang membutuhkan dedikasi, literasi, dan konsistensi luar biasa. Menggali sejarah Stadion Gajayana yang telah berdiri selama 100 tahun—lebih tua dari Republik Indonesia—bukanlah pekerjaan mudah.
Mengumpulkan rekam jejak, kronika, dan catatan peristiwa selama satu abad, kemudian menyajikannya dalam bentuk tulisan yang bisa dijadikan warisan bagi generasi mendatang, merupakan kerja keras yang membutuhkan energi, sumber daya, dan kekuatan solid dalam setiap prosesnya.
“Buku Satu Abad Stadion Gajayana Kota Malang ini merupakan salah satu bukti dari sekian banyak hasil Kesatuan Kolaborasi yang ada di Kota Malang. Sebuah kontribusi nyata dalam upaya membangun Kota Malang, yang digerakkan oleh Komunitas Penulis di Kota Malang,” tulis Ali Muthohirin, Wakil Wali Kota Malang, dalam kata pengantar buku.
Ketiga. penerbitan buku ini juga menjadi sejarah istimewa bagi Kota Malang, terutama karena diterbitkan dalam rangka merayakan pengakuan Malang sebagai Kota Kreatif Dunia oleh UNESCO. Hal ini semakin menambah deretan catatan bersejarah bagi Kota Malang di sepanjang tahun 2025.
Seperti yang diungkapkan oleh Buya Hamka, “Buku adalah hadiah terbaik di dunia. Karena merupakan harta karun, yang bisa kita nikmati setiap waktu, dan menjadi warisan beradab sepanjang masa.”
Maka, buku Satu Abad Stadion Gajayana ini merupakan hadiah terbaik bagi perayaan HUT Kota Malang ke-111 tahun. Kelak, buku ini bisa menjadi harta karun dan warisan yang sangat berharga bagi generasi penerus selanjutnya. Nama-nama para penulis dan setiap orang yang terlibat dalam proses penulisan hingga penerbitan buku ini, akan selamanya abadi tercatat dalam lintasan sejarah Kota Malang ke depan.
“Membangun memang harus berorientasi pada kemajuan zaman dan visi masa depan. Namun, jangan sampai kita kehilangan karakter, jati diri dan akar keluhuran sebagai Manusia Berbudaya,” demikian pesan Wakil Wali Kota Malang dalam kata pengantarnya, menegaskan pentingnya buku ini sebagai jembatan antara masa lalu yang berkarakter dengan masa depan yang maju.
Segala yang diucapkan bisa hilang, segala yang dituliskan bisa menjadi abadi (Verba Volant, Scripta Manent)
Dengan semangat filosofi Latin tersebut, buku ini hadir sebagai legacy yang abadi—menjadi sumber manfaat dan inspirasi bukan hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga bagi bergenerasi-generasi yang akan datang.
“Sungguh, menulis bukanlah sekadar keterampilan teknis belaka. Namun, menulis adalah sebuah bentuk ibadah intelektual yang sangat membutuhkan kesabaran, ketulusan dan ketekunan. Bukan hanya sekadar mengolah pikiran, tetapi juga mengolah jiwa, hati dan batin dengan sedalam-dalamnya,” ungkap Ali Muthohirin dalam kata pengantar yang ditulisnya pada 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Wakil Wali Kota Malang memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua penulis dan pihak-pihak yang telah terlibat dalam seluruh proses penulisan hingga penerbitan buku ini, sembari mendorong semangat untuk terus berkarya dan berkontribusi membangun masa depan Kota Malang.
Stadion Gajayana bukan sekadar bangunan berusia 100 tahun. Ia adalah saksi hidup dari berbagai era—mulai dari zaman kolonial Belanda, masa perjuangan kemerdekaan, hingga menjadi rumah bagi kebanggaan sepak bola Malang modern. Kini, seluruh perjalanan penuh warna itu terangkum dalam 550 halaman yang sarat makna dan dokumentasi langka.
Buku “Satu Abad Stadion Gajayana Kota Malang” sesungguhnya bukan hanya berisi catatan-catatan tanggal, peristiwa, momentum, memori kolektif, dan historiografis semata. Lebih dalam dari itu, buku ini menyajikan dokumentasi Jiwa dan Alam Kehidupan Kota Malang sepanjang usia Satu Abad Stadion Gajayana.
Betapa pengaruhnya sangat kuat terhadap percepatan kemajuan dan perkembangan Kota Malang ketika Stadion Gajayana mulai berdiri. Pengaruhnya masih terus dirasakan, dinikmati, dan dikembangkan hingga saat ini. Sehingga, buku ini tidak hanya mewariskan catatan sejarah masa lalu, tetapi juga menyajikan bahan baku fundamental bagi pengembangan visi dan misi untuk membangun masa depan Kota Malang.

“Satu Abad Stadion Gajayana Kota Malang” mengupas habis dua sisi mata uang dari keberadaan stadion legendaris ini:
• Sisi Paling Terang: Kejayaan, prestasi gemilang, momen-momen heroik yang menginspirasi generasi
• Sisi Paling Gelap: Babak kelam, tantangan berat, dan ujian yang harus dihadapi sepanjang sejarah
Dengan pendekatan jurnalistik yang mendalam dan riset arsip yang komprehensif, buku ini menghadirkan narasi yang jujur, lengkap, dan berimbang tentang perjalanan Stadion Gajayana.
Mengapa Buku Ini Istimewa?. Dokumentasi Terlengkap. Berisi 550 halaman dengan kombinasi foto hitam putih dan berwarna yang menampilkan transformasi stadion dari masa ke masa. Dari foto-foto era kolonial yang langka hingga momen-momen terkini yang penuh emosi.
Struktur Komprehensif dalam Dua Babak Besar:
BABAK I – TRANSFORMASI RUPA STADION GAJAYANA
Mengupas evolusi arsitektur dan fisik stadion dari masa ke masa, meliputi:
• Sejarah Kota Malang sejak dahulu kala
• Konsentris-konsentris pembangunan Kota Malang
• Wujud awal Sportparkbedrijf saat lahir (1924-1926)
• Transformasi setelah renovasi tahun 90-an dan 2006
• Evaluasi kondisi terkini
• Konsep revitalisasi: Reinkarnasi dalam Spirit Arek Malang
• Stadion Gajayana Reborn: Membuka kembali jejak Gajayana
(Ditulis oleh tim Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Malang dan kontributor lainnya)
BABAK II – KELAHIRAN LAPANGAN OLAHRAGA DI TENGAH KOTA MALANG
Menelusuri konteks historis dan sosial, mencakup:
• Jejak sejarah Gemeente Malang: Perencanaan infrastruktur dan pengaruh desentralisasi serta Politik Etis
• Mimpi Gemeente Malang sebagai Kota Olahraga
• Semarak area olahraga sebagai rekreasi, spirit prestasi, dan pengikat kebersamaan
• Festival sebagai pembangun kebanggaan dan kebahagiaan di Kota Malang
(Ditulis oleh Lulut Edi Santoso, M.Pd., Debita Aisyiyah Putri Ayu, S.Sej., dan tim)
• Kandungan Spirit Juang “Gajayana” pada Keolahragaan Malang: Stadion bersejarah di Kota Heritage Malang (M. Dwi Cahyono)
BABAK III – STADION MALANG: ANTARA PRESTASI, PRESTISIUS, SIMBOL, DAN RUANG MERAWAT KEBERAGAMAN
Mengeksplorasi dimensi sosial dan kultural stadion sebagai ruang publik yang menyatukan:
• Stadion sebagai simbol prestasi dan prestise Kota Malang
• Peran stadion dalam merawat keberagaman masyarakat
• Stadion Gajayana, Saksi Bisu Romansa Perjuangan Bung Tomo & Nasionalisme yang Membara di Bumi Arema (Ditulis oleh Bachtiar Djanan, Khalyandhara Pramesthi Regita Wulan, dan tim)
BABAK IV – MALANG 1951 DAN VISI MASA DEPAN
Merajut masa lalu dengan masa depan, mencakup:
• Potret Malang tahun 1951 dan perkembangannya (Bagus Ninar, Ico Oemar)
• Strategi menjadikan Stadion Gajayana sebagai Pusat GLAM (Gallery, Library, Archive, and Museum) Kota Malang (Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust, M.M)
• Malangsche Stadion, Stadion Tertua di Indonesia (Restu Respati)
BABAK V – KANDUNGAN SPIRIT JUANG “GAJAYANA”
Menggali esensi spiritual dan semangat juang dalam keolahragaan Malang:
• Spirit Juang “Gajayana” pada Keolahragaan Malang: Stadion bersejarah di Kota Heritage (M. Dwi Cahyono)
• Puisi “Satu Abad Stadion Gajayana Malang: Awal Sebuah Perjalanan” (Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust, M.M)
BABAK VI – CATATAN REMEH-TEMEH DI SEPUTAR STADION KOTA MALANG
Mengungkap sisi-sisi yang jarang terlihat:
• Catatan remeh-temeh di seputar Stadion Kota Malang (Bambang A.W.)
• Sisi gelap di area Stadion Malang (Bambang AW)
• Arema bangun “Senayan Mini” Stadion Gajayana (Abdul Muntholib)
• Malang bekuk Austria: Momen bersejarah pertandingan internasional (Abdul Malik)
BABAK VII – TOKOH-TOKOH LEGENDARIS
Profil para tokoh yang mengukir sejarah:
• Jan Mangi Ratu (1908-1993): Legenda sepak bola Malang (Abdul Malik, Novarita, Muhammad Nasa’i)
• Andreas Idjono: Lahir dari rahim Stadion Gajayana Malang (Denise Resiamini Praptaningsih)
BABAK VIII – FANATISME, SEPAK BOLA, DAN HUMANISME
Dimensi filosofis dan seni di stadion:
• Fanatism – Footballism – Humanism (Arief Wibisono S.Sos)
• Seni Tari Masal di Stadion Gajayana Kota Malang (Robby Hidayat)
• Mangkuk Keragaman Stadion Gajayana (Ari Ambarwati)
BABAK IX – GAJAYANA: MAKNA DI BALIK NAMA
Mengupas akar historis dan spiritual nama Gajayana:
• Gajayana, Sosok di Balik Nama Stadion Tertua di Jawa Timur (Rendra Fatrisna Kurniawan, A.P., S.Pd., M.Si)
• Gajayana: Dari Raja, Kesebelasan hingga Stadion (Muhammad Nasa’i)
• Gajayana Saksi Kembalinya Sang Legenda (Bagus Ary Wicaksono)
BABAK X – STADION SEBAGAI RUANG SPIRITUAL DAN BUDAYA
Stadion sebagai panggung peristiwa bersejarah lintas agama dan budaya:
• Janji Kudus Gembala Umat Katolik Asli Arek Malang Berkumandang di Stadion Gajayana (Yayuk Sulistiyowati M.V)
• Malang: Paris van East Java (Eko Rody Irawan)
• Aubade (Denise Resiamini Praptaningsih)
BABAK XI – MUSIK DAN EKONOMI KREATIF
Stadion sebagai panggung seni dan ekonomi kreatif:
• Musik di Stadion Gajayana (Hengki Herwanto)
• Raksasa di Gajayana (Herman Aga)
• Stadion Gajayana dan Ruang Ekspresi Budaya: Menghidupkan kembali Budaya Rock di Ruang Publik Kota Malang (Satrya Paramandana)
• Kebangkitan Ekonomi Kreatif Sub Sektor Musik di Stadion Gajayana (Agung H. Buana)
• “Semut Hitam” Stadion Gajayana (Engelbertus Kukuh Widijatmoko, SH., M.Pd)
• Dari Stadion Gajayana, 104 Malang Sound of Unity Pecahkan Rekor Dunia (Hariani)
BABAK XII – WARISAN UNTUK MASA DEPAN
Menutup dengan refleksi dan visi pelestarian:
• Mendirikan Museum Sepak Bola, Momentum 100 Tahun Stadion Gajayana (Hengki Herwanto)
• Momentum, Proses & Dedikasi (Wahyu Eko Setiawan)
• Satu Abad Stadion Gajayana: Meneroka Gajayana, Spirit Kera Ngalam Kebanggaan Nusantara (Eko Rody Irawan)
• Stadion Gajayana: Stadion Bertuah yang Menghimpun Para Penjemparing Tradisional Daerah Berfestival (RBG Kushariyono Arif Wibowo, S.Fil/Wibie Maharddika)
• Kenangan Kompleks Stadion Malang (Taufiq Saguanto)
Sekelumit tentang Stadion Gajayana.
Stadion Gajayana adalah stadion sepak bola tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1924 dan selesai pada 1926 di era kolonial Belanda. Diprakarsai oleh Wali Kota Malang H.I. Bussemaker dengan biaya 100.000 gulden, stadion ini dinamai sesuai Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan (760-789 M) sebagai penghormatan terhadap sejarah lokal.
Stadion ini bukan hanya saksi perkembangan sepak bola, tetapi juga menyimpan jejak sejarah perjuangan bangsa. Pada 7 Maret 1942, stadion ini menjadi tempat penyerahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Setelah kemerdekaan, Stadion Gajayana menjadi markas militer rakyat Malang dalam menghadapi Agresi Militer Belanda I, bahkan Bung Tomo kerap berpidato di sini untuk memompa semangat para pejuang.
Sejak masa kolonial, berbagai klub telah bermarkas di stadion ini, mulai dari Malangsche Voetbal Unie (1934-1952), PSIM Malang, Persema Malang, hingga Arema FC yang menjadi identitas sepak bola Malang modern. Stadion berkapasitas 25.000 penonton ini telah melalui beberapa renovasi besar, termasuk pada tahun 1990-an dan 2008, untuk menjadikannya sebagai kompleks olahraga terpadu dengan fasilitas kolam renang, jogging track, dan lapangan multifungsi.
Dilengkapi dengan Profil Para Penulis Spektrum Satu Abad Stadion Gajayana—memperkenalkan 40 penulis yang telah mendedikasikan waktu dan keahlian mereka untuk mengabadikan sejarah stadion tertua di Indonesia. Dengan beragamnya latar belakang dan keahlian para kontributor, buku ini menghadirkan perspektif multidimensi yang kaya—mulai dari sudut pandang sejarah, sosial, budaya, hingga olahraga—menjadikannya referensi paling komprehensif tentang Stadion Gajayana.
Karya Kolaboratif dari para ahli. Buku ini merupakan hasil kolaborasi dari 36 penulis yang tergabung dalam “SPEKTRUM SATU ABAD STADION GAJAYANA”, terdiri dari sejarawan, akademisi, jurnalis, budayawan, dan praktisi olahraga yang memiliki kepedulian mendalam terhadap pelestarian sejarah Kota Malang.
Tim Penulis:
Haris Wibisono | Dezzalina Dyana Paramita | Wasiska Iyati | Armudya Indra Permana | Dian Widatama | Lulut Edi Santoso, M.Pd. | Debita Aisyiyah Putri Ayu, S.Sej. | Bachtiar Djanan | Khalyandhara Pramesthi | Regita Wulan | Bagus Ninar | Ico Oemar | Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust, M.M | Restu Respati | Bambang AW | Abdul Muntholib | Abdul Malik | Novarita | Denise Resiamini Praptaningsih | Robby Hidayat | Ari Ambarwati | Rendra Fatrisna Kurniawan, A.P., S.Pd., M.Si | Muhammad Nasa’i | Bagus Ary Wicaksono | Eko Rody Irawan | Hengki Herwanto | Herman Aga | Satrya Paramandana | Agung H. Buana | Engelbertus Kukuh Widijatmoko, SH., M.Pd | Hariani | Arief Wibisono S.Sos | Wahyu Eko Setiawan | RBG Kushariyono | Arif Wibowo, S.Fil (Wibie Maharddika) | Taufiq Saguanto | Arif Wibowo | Dwi Cahyono | Yayuk Sulistiyowati | M.V Gedeon Soerja A.N
Penerbit: Media Nusa Creative Publishing, Malang
Informasi Buku
Judul: Satu Abad Stadion Gajayana Kota Malang
Konsep: Spektrum Satu Abad Stadion Gajayana
Jumlah Halaman: 550 halaman
Format: Mix Hitam Putih & Berwarna
Penerbit: Media Nusa Crea
