eventsLifestyle

AREMANAH, Arek Malang Pamanah, Catatan Wibie Maharddhika

Haqqul yaqin bahwa aktivitas memanah adalah mata air olah jiwa universal yang khas dan istimewa. Ini takdir yang berbicara. Mulai dari tokoh-tokoh pewayangan utama seperti Arjuna, Karna dan Bambang Ekalaya hingga tokoh-tokoh spiritual religius seperti Sidharta Gautama (Sang Budhha) adalah ahli panahan tingkat Dewa. Tidak mengherankan hingga Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW pun menganjurkan umat untuk belajar memanah. Para Ulama dan Ksatria Pinandhita tanah Jawa memahami visi Kanjeng Nabi, dan para Beliau mengistilahkan kegiatan tersebut sebagai MANAH.

Mengapa MANAH begitu penting hingga para Ningrat Kraton pun, khususnya Mataram Islam menjadikan panahan sebagai bagian utama dalam pendidikan para Ksatria? Tak hanya pria, bahkan wanita seperti Bendara Raden Ayu Matah Ati adalah pemimpin legiun 40 prajurit perempuan pemanah yang sakti dalam mengiringi perjuangan suaminya yang tak pernah kalah perang, yakni Pangeran Sambernyawa atau KGPAA Mangkunegara I pendiri Praja Mangkunegaran Surakarta Hadiningrat. Mengapa MANAH diistimewakan oleh para pemimpin yang berjiwa “professional prophetic”? Tak lain karena MANAH berintikan pelatihan kesadaran jiwa, pemurnian batin dan pembangun akhlaq. Meningkatkan level spiritualitas, budi pekerti dan religiusitas. Arti MANAH sendiri adalah harmoni pikiran, hati dan jiwa. Yang dibangun pada intinya adalah kekuatan konsentrasi, ketenangan dan keteguhan. Ia adalah inti dari pembangunan karakter ksatria pinandhita berupa “Sawiji, Greged, Sengguh, Ora Mingkuh”. Yakni totalitas konsentrasi dan ketenangan, semangat dan gairah, kepercayaan diri dan kerendahan hati, serta dedikasi pantang menyerah dan bertanggungjawab.

Momentum Malang Sportiva Festival (MASFEST) I 2025 oleh KORMI kota Malang pada 22-23 November 2025 di Stadion Gajayana kota Malang (Stadion tertua Indonesia) menjadi momen bersejarah bagi aktivitas panahan tradisional dalam naungan Induk Olahraga (INORGA) PERPATRI Nusantara Jaya. Tentu saja dari titik ruang dan waktu bukanlah sebuah kebetulan. Ada Cahaya Kasih Sayang ILAHIAH yang menerangi dan menafasi peristiwa tersebut. Sekali lagi karena MANAH adalah “pegangan” para tokoh Ketuhanan, Wali Kekasih ALLAH dan Leluhur suci yang menjadi AMANAH bagi umat dan generasi untuk menghidupkan, melestarikan dan mengembangkannya. Terlebih di era yang dipenuhi dengan kebisingan kepentingan, fitnah dan hoax, maka OLAH MANAH adalah maha penting agar pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan (CATUR MURTI) kita senantiasa di jalan keselamatan serta keberlimpahan. Tidak mudah terombang-ambing, stress hingga larut terbawa arus ego besar dan energi yang merusak diri.

Seringkali kita syiarkan bahwa Malang Raya adalah Mata Air Peradaban Jawa Nusantara. Bahkan dalam Kitab Panahan Suryenglagan (Pangeran Suryenglaga, Panglima Perang Jawa dan adik Pangeran Diponegoro) disebutkan bahwa SINGHASARI adalah sumber keilmuan spiritual dan panahan Nusantara. Ini semakin meyakinkan bahwa gerakan panahan tradisional di Malang Raya menjadi hal penting bagi nyala api dan kesegaran jiwa peradaban. Berkumpul dan silaturahim nya para pamanah Malang Raya, baik dari Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang semata mengikuti alur dan aliran mata air jiwa tersebut. Apalagi jika kita sadari bahwa PAMANAH secara hakiki bermakna “Panggayuh Jiwa Muthmainnah” atau pejuang jiwa damai bagi dirinya sendiri. Setiap PAMANAH yang menggenggam Jemparing dan Gandewa dengan semangat doa “Manah Sae kang Suci” akan menjadi pusat cahaya yang menebarkan energi, vibrasi dan frekuensi kejernihan dan ketenangan semesta yang berawal dari fokus perbaikan diri pribadi. Itulah mengapa PANAHAN itu walau dilakukan bersama-sama hingga dibuat lomba, tetaplah yang dilawan adalah dirinya sendiri. Setiap PAMANAH bertanding melawan egonya sendiri agar semakin tenang berserah sepenuhnya ke Hadirat ILAHI. Memunculkan mata air jiwa yang mensucikan NGALAM, atau “Mamasuh malaning bumi, mangasah mingis ing budi”. Sebuah aktivitas yang selalu membuat rindu dan jauh dari kebosanan.

Gerakan AREMANAH atau AREK MALANG PAMANAH dengan demikian mempertegas makna MALANGKUCECWARA atau “Mala Angkuca Ishwara” yang berarti “Kebathilan runtuh oleh TUHAN”. Kebathilan yang bernuansa angkara murka berupa amarah, dendam, iri, dengki, benci, penyesalan, kekecewaan, kemalasan, egoisme dan arogansi masa lalu dilebur di masa kini dengan gerakan pembasuhan pikiran, hati dan jiwa dalam OLAH MANAH. Bumi SINGHASARI pun menjadi saksi bahwa GANDEWA atau VAJRA RANI (Ratu dari segala senjata) adalah sarana surgawi untuk mewujudkan kemenangan itu. Pendek kata pula, jangan mengaku WONG NGALAM SINGHASARI jika masih menyimpan jiwa angkara murka di muka. Sungguh ini adalah jihad Nusantara dan peperangan terbesar dalam kehidupan. Perjuangan yang tak pernah henti sekaligus mengasyikkan. Terus mengalir jernih sukacita AREMANAH, Arek Malang Pamanah ! Engkau adalah spirit pencetak Generasi Emas yang nyata hingga semakin menyala di 2045. Salam Satu Jiwa, Sehat, Bugar, Gembira, Luar Biasa !

NGALAM RAYA, Wibie Maharddhika (R. Kushariyono Arief Wibowo, S.Fil)

Ketua Umum PERPATRI Nusantara Jaya Kota Malang
Koordinator Divisi Kebudayaan PERPATRI Nusantara Jaya Jawa Timur
Alumni Universitas Gadjah Mada
Pamanah dan Penyiar Budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?