ancientArt and Culture

Membongkar Teknologi Borobudur, Mahakarya Batu Nusantara yang Melampaui Zamannya, Catatan Harry Waluyo

Borobudur: Lebih dari Sekadar Candi

Terletak di Magelang, Jawa Tengah, Candi Borobudur telah memukau dunia selama lebih dari 1.200 tahun. Setiap tahunnya, ratusan ribu wisatawan dan peneliti datang untuk menyaksikan kemegahan monumen Buddha terbesar di dunia ini. Namun, di balik relief yang memesona dan stupa-stupa megahnya, tersimpan teknologi konstruksi canggih yang dibangun jauh sebelum adanya semen, baja, atau komputer desain modern.

Borobudur bukan hanya karya seni religius, melainkan juga proyek rekayasa multidisipliner: perpaduan antara teknik sipil, arsitektur, hidrologi tropis, astronomi, dan material batu vulkanik Nusantara.

  1. Batu Andesit: Material Lokal dengan Presisi Global

Para arsitek Borobudur menggunakan sekitar 56.600 m³ batu andesit, diambil dari bukit dan aliran sungai Progo yang jaraknya relatif dekat dari lokasi candi. Batu andesit dipilih karena keras, tahan cuaca, dan mudah dipahat untuk relief.

Dengan densitas rata-rata 2.600 kg/m³, total berat struktur diperkirakan mencapai 147.000 ton. Setiap blok batu dipotong presisi dan disusun tanpa menggunakan mortar. Teknik sambungan interlocking seperti dovetail dan alur-pasak membuat bangunan kokoh, stabil, dan tahan gempa ringan selama berabad-abad.

  1. Struktur Bertingkat: Mandala Kosmis & Kejeniusan Teknik

Borobudur dibangun di atas bukit alami, kemudian dilapisi dan dikelilingi oleh lapisan batu andesit. Struktur terasnya terdiri dari lima platform persegi di bawah dan tiga platform melingkar di atas, membentuk mandala tiga dimensi — simbol kosmos Buddhis sekaligus solusi teknik distribusi beban vertikal dan horizontal.

Untuk ruang-ruang stupa kecil, digunakan teknik corbelling: batu disusun menjorok ke dalam lapis demi lapis hingga membentuk lengkungan tanpa memerlukan kubah berteknologi tinggi.

  1. Sistem Drainase Tersembunyi: Inovasi Tropis Abad ke-8

Salah satu teknologi paling mencengangkan dari Borobudur adalah sistem drainase internalnya. Dalam iklim tropis dengan curah hujan tinggi, air menjadi musuh utama bangunan batu. Para perancang Borobudur membuat:

Saluran air internal yang tersembunyi di balik dinding

Kotak inspeksi & sumur resapan di bawah bukit

Ratusan spouts (saluran pembuangan) berbentuk makara di sisi luar

Air hujan diarahkan untuk cepat keluar tanpa merembes ke lapisan dalam, mencegah pelapukan dan pergeseran fondasi. Sistem ini begitu efektif sehingga menjadi model dalam konservasi modern.

  1. Logistik Konstruksi: Organisasi Tenaga & Rekayasa Lapangan

Walaupun belum ditemukan bukti alat mekanik kompleks, penelitian menunjukkan kemungkinan besar para pekerja menggunakan ramp tanah, katrol sederhana, sistem rol kayu, dan tuas untuk mengangkat blok batu seberat 260–1300 kg. Proyek sebesar ini memerlukan organisasi tenaga kerja besar dan terlatih, menunjukkan tingginya kemampuan manajemen konstruksi masyarakat Mataram Kuna.

  1. Restorasi Modern: Kolaborasi Teknologi & Budaya

Antara tahun 1975–1982, Borobudur mengalami restorasi besar-besaran oleh Pemerintah Indonesia dan UNESCO. Lebih dari 1 juta batu dibongkar dan disusun ulang menggunakan metode anastylosis. Proyek ini memperbaiki sistem drainase, memperkuat fondasi, dan menambahkan lapisan kedap air serta filter modern — sambil mempertahankan keaslian desain abad ke-8.

  1. Tantangan Pelestarian Masa Kini

Borobudur kini menghadapi tantangan baru: pelapukan akibat polusi udara, mikroorganisme, serta tekanan dari jutaan wisatawan. Para konservator menggabungkan sensor kelembapan, studi hidrologi, serta pembersihan non-invasif untuk menjaga monumen ini tetap lestari.

Borobudur: Warisan Multidisipliner Dunia

Borobudur bukan sekadar candi atau tempat wisata. Ia adalah laboratorium hidup multidisipliner: bukti bahwa teknik lokal Nusantara mampu menghasilkan struktur batu yang presisi, tahan lama, dan berlandaskan simbolisme kosmologis.

Di era modern, pelestarian Borobudur menuntut kolaborasi antara arkeolog, insinyur sipil, ahli geoteknik, ahli material, ahli lingkungan, dan masyarakat lokal — sebagaimana dulu para leluhur menyatukan pengetahuan mereka untuk membangun mahakarya ini.

Daftar Pustaka

Gunarto, H. (2004). Borobudur and Prambanan Temples: UNESCO Cultural Heritages. Ritsumeikan Asia Pacific University.

JICA. (2011). History of Restoration Work of Candi Borobudur. Japan International Cooperation Agency.

Kowal, K. (2019). The Borobudur temple: the Buddhist architecture in Indonesia. ResearchGate.

Lukman. (2013). The Waterworld Inside the Hill Beneath Borobudur Temple. Universitas Gadjah Mada.

Ministry of Culture RI & UNESCO. (1983). The Restoration of Borobudur. Paris: UNESCO Publishing.

UNESCO. (1982). Saving Chandi Borobudur For 1000 Years More – Final Report on the Restoration. Paris: UNESCO.

Wikimedia Commons. (n.d.). Borobudur Relief & Structure Images [Photographs]. CC-BY-SA License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?