Creative EconomyEntrepreneur

Platform E-Commerce asli Indonesia untuk Menembus Pasar Global, Catatan Harry Waluyo

Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan basis pengguna internet yang terus bertumbuh, telah menjadi salah satu pasar e-commerce paling dinamis di Asia Tenggara. Data menunjukkan bahwa nilai transaksi e-commerce Indonesia diproyeksikan melampaui USD 46 miliar pada 2025, menjadikannya pasar terbesar di kawasan ASEAN [8]. Pertumbuhan ini didorong oleh penetrasi smartphone yang tinggi, peningkatan literasi digital, serta kebijakan pemerintah yang mendukung ekonomi digital. Namun, di tengah potensi tersebut, pertanyaan krusial muncul: apakah Indonesia memerlukan platform e-commerce lokal yang dirancang khusus untuk menembus pasar global?

Meski platform asing seperti Shopee dan Tokopedia telah mendominasi pasar domestik, keberadaan mereka belum sepenuhnya mampu mengangkat produk Indonesia ke kancah internasional. Fakta menunjukkan bahwa ekspor melalui e-commerce masih minim dibandingkan dengan impor digital [1]. Hal ini mengindikasikan adanya ketimpangan struktural dalam ekosistem perdagangan digital nasional. Tanpa strategi yang terintegrasi, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar konsumen pasif bagi pemain global, bukan produsen aktif yang mampu mengekspor nilai tambah.

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan seiring dengan rencana ekspansi pasar e-commerce Indonesia yang diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 9,07% hingga mencapai USD 760,8 miliar pada 2033 [19]. Artikel ini akan menganalisis urgensi pengembangan platform e-commerce khas Indonesia untuk penetrasi global, dengan mempertimbangkan tantangan infrastruktur, kebijakan, serta peluang yang dimiliki oleh ekonomi digital nasional.

Pertumbuhan Ekosistem E-Commerce Indonesia: Potensi yang Belum Tersalurkan

Pasar e-commerce Indonesia telah membuktikan diri sebagai salah satu yang paling berkembang di dunia. Nilai transaksi tahunan diprediksi meningkat dari USD 40,4 miliar pada 2023 menjadi USD 63,2 miliar pada 2028, dengan kontribusi utama dari sektor ritel, fashion, dan elektronik [14]. Angka ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemimpin di ASEAN, mengungguli Thailand dan Vietnam dalam hal pertumbuhan [16]. Namun, pertumbuhan domestik yang impresif ini belum diimbangi oleh penetrasi ekspor yang signifikan.

Fakta menunjukkan bahwa lebih dari 80% transaksi e-commerce Indonesia masih bersifat lokal, sementara ekspor digital hanya menyumbang kurang dari 5% dari total transaksi [2]. Hal ini terjadi karena mayoritas platform yang beroperasi di Indonesia—baik milik lokal maupun asing—dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, bukan untuk menghubungkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke rantai pasok global [6]. Padahal, UMKM menyumbang 61% PDB nasional dan menyerap 97% tenaga kerja [5]. Tanpa platform yang memprioritaskan ekspor, potensi ekonomi ini akan terbuang sia-sia.

Perkembangan teknologi seperti pembayaran digital dan logistik telah menjadi pendorong utama pertumbuhan e-commerce domestik. Namun, sistem tersebut belum sepenuhnya mendukung transaksi lintas batas. Contohnya, metode pembayaran seperti QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang populer di Indonesia belum diterima secara luas di pasar internasional [12]. Selain itu, kurangnya integrasi dengan sistem bea cukai global mempersulit pelaku UMKM dalam mengirimkan produk ke luar negeri [7]. Keterbatasan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan e-commerce saat ini masih bersifat konsumtif, bukan produktif.

Pasar global menuntut standar yang berbeda dibandingkan pasar domestik. Misalnya, konsumen di Eropa memprioritaskan keberlanjutan dan sertifikasi produk, sementara di Amerika Utara, kecepatan pengiriman menjadi faktor penentu [13]. Platform e-commerce yang ada belum mampu memetakan kebutuhan tersebut ke dalam antarmuka yang mudah diakses oleh pelaku UMKM Indonesia. Tanpa penyesuaian ini, produk lokal akan kesulitan bersaing dalam hal kualitas layanan, meskipun memiliki keunggulan pada keunikan dan harga kompetitif [9].

Tantangan Infrastruktur Digital: Penghambat Utama Ekspor Berbasis E-Commerce

Infrastruktur logistik menjadi salah satu penghambat utama ekspor melalui e-commerce. Meski Indonesia telah mengembangkan jaringan logistik nasional yang memadai untuk transaksi domestik, sistem tersebut belum siap untuk memenuhi standar pengiriman internasional [12]. Data menunjukkan bahwa 65% pengguna e-commerce mengeluhkan keterlambatan pengiriman lintas batas, dibandingkan dengan 25% untuk pengiriman domestik [10]. Keterbatasan ini tidak hanya mengurangi kepercayaan konsumen global tetapi juga meningkatkan biaya operasional bagi pelaku usaha kecil.

Kompleksitas regulasi perdagangan internasional juga menjadi tantangan signifikan. Setiap negara memiliki aturan berbeda terkait bea masuk, standar produk, dan sertifikasi halal [1]. Di Indonesia, kurangnya integrasi antara platform e-commerce dan sistem kepabeanan menyebabkan proses ekspor menjadi rumit dan berbiaya tinggi [7]. Contohnya, UMKM sering kesulitan dalam mengisi formulir ekspor karena bahasa teknis dan persyaratan administratif yang rumit [15]. Tanpa sistem yang terotomatisasi, pelaku usaha lokal akan terus kalah bersaing dengan pemain global yang telah memiliki infrastruktur ekspor yang mapan.

Kesenjangan literasi digital juga memperparah masalah ini. Meski penetrasi internet mencapai 73,7% pada 2023, banyak pelaku UMKM belum memahami cara memanfaatkan platform e-commerce untuk ekspor [5]. Survei menunjukkan bahwa hanya 12% UMKM yang menggunakan fitur ekspor di platform seperti Tokopedia dan Shopee [11]. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pelatihan terkait pemasaran digital lintas budaya, manajemen mata uang asing, dan pemahaman regulasi internasional [23]. Tanpa peningkatan kapasitas ini, platform e-commerce lokal akan sulit menjadi jembatan ekspor yang efektif.

Infrastruktur pembayaran digital juga belum sepenuhnya mendukung transaksi global. Meskipun Indonesia telah mengadopsi sistem pembayaran QRIS yang sukses secara domestik. Sistem ini tidak kompatibel dengan standar internasional seperti SWIFT atau PayPal [12]. Akibatnya, transaksi ekspor seringkali melibatkan biaya konversi mata uang yang tinggi dan keterlambatan proses verifikasi [17]. Platform e-commerce yang dirancang khusus untuk ekspor harus mengintegrasikan solusi pembayaran yang memenuhi standar global sekaligus tetap mempertahankan keleluasaan bagi pelaku UMKM lokal [18].

Peran Platform Lokal dalam Mempertahankan Identitas Budaya dan Ekonomi

Platform e-commerce lokal memiliki keunggulan dalam memahami nuansa budaya dan preferensi konsumen Indonesia. Berbeda dengan platform asing yang cenderung menerapkan model bisnis seragam, platform khas Indonesia dapat merancang fitur yang mempertahankan identitas lokal. Sambil menyesuaikan diri dengan pasar global [6]. Contohnya, integrasi fitur seperti bargaining (tawar-menawar) dan cash on delivery (COD) yang populer di Indonesia menjadi tidak relevan di pasar Barat, tetapi justru menjadi nilai jual ketika menargetkan konsumen di negara berkembang seperti Bangladesh atau Nigeria [9].

Keberadaan platform lokal juga penting untuk melindungi data ekonomi strategis. Saat ini, sebagian besar data transaksi e-commerce Indonesia dikumpulkan oleh platform asing, yang berpotensi mengakses informasi tentang preferensi konsumen, tren pasar, dan pola produksi UMKM [1]. Data ini tidak hanya berharga bagi tujuan komersial tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk analisis kebijakan ekonomi makro. Tanpa platform lokal yang mengelola data tersebut, Indonesia berisiko kehilangan kendali atas keputusan strategis yang berdampak pada kedaulatan ekonomi nasional [15].

Platform e-commerce khas Indonesia juga dapat menjadi wadah untuk mempromosikan produk berbasis kearifan lokal. Misalnya, industri kain tenun, kerajinan tangan, dan produk organik memiliki potensi ekspor yang besar tetapi seringkali kesulitan memenuhi standar kemasan dan dokumentasi internasional [25]. Dengan platform yang dirancang khusus, UMKM dapat dibantu dalam proses sertifikasi halal, pengemasan ramah lingkungan, dan penerjemahan deskripsi produk ke dalam beberapa bahasa [11]. Hal ini tidak hanya meningkatkan daya saing produk lokal tetapi juga memperkuat citra Indonesia sebagai penghasil barang berkualitas dengan nilai budaya tinggi [22].

Selain itu, platform lokal dapat berperan sebagai mediator dalam membangun jaringan kolaborasi global. Contohnya, JAFF Market (Jakarta Asian Film Festival) telah berhasil memanfaatkan platform digital untuk memasarkan konten kreatif Indonesia ke pasar internasional [24]. Model serupa dapat diterapkan pada sektor lain seperti fesyen, makanan, dan pariwisata. Dengan menggabungkan keahlian lokal dan jaringan global, platform e-commerce nasional dapat menjadi tulang punggung ekspor berbasis budaya yang membedakan Indonesia dari negara pesaing [26].

Kebijakan Pemerintah: Fondasi yang Masih Rapuh untuk Ekspor Digital

Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah awal dalam mendukung ekonomi digital melalui inisiatif seperti “Roadmap Ekonomi Digital 2021-2025” dan peluncuran Indonesia Digital Trade Hub [1]. Namun, kebijakan tersebut masih fokus pada pengembangan pasar domestik, bukan ekspor berbasis e-commerce [2]. Contohnya, program Peta Jalan lebih menekankan pada peningkatan penetrasi internet dan literasi digital, sementara aspek ekspor seperti integrasi sistem kepabeanan dan standarisasi produk masih kurang mendapat perhatian [7].

Regulasi pajak juga menjadi penghambat utama. Saat ini, transaksi ekspor melalui e-commerce dikenai PPN 11% dan PPh 22, yang membuat harga produk Indonesia menjadi kurang kompetitif di pasar global [14]. Di sisi lain, negara seperti Vietnam dan Thailand memberikan insentif pajak hingga 50% bagi pelaku ekspor digital [16]. Tanpa kebijakan yang kompetitif, UMKM Indonesia akan kesulitan bersaing dengan produk serupa dari negara tetangga yang telah memiliki dukungan kebijakan lebih matang [15].

Kolaborasi antarlembaga pemerintah juga masih kurang terkoordinasi. Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki wewenang terkait ekspor digital, tetapi tidak ada badan khusus yang mengoordinasikan integrasi kebijakan tersebut [2]. Akibatnya, pelaku UMKM sering menghadapi tumpang tindih regulasi dan prosedur yang rumit. Contohnya, produk makanan organik harus melalui lima instansi berbeda untuk mendapatkan izin ekspor, sementara di Malaysia proses serupa hanya membutuhkan dua instansi [7].

Pemerintah perlu segera mengadopsi kebijakan yang mendukung “ekosistem ekspor terintegrasi”. Hal ini termasuk penyederhanaan prosedur kepabeanan, pemberian insentif pajak untuk transaksi ekspor digital, serta pembangunan pusat pelatihan ekspor berbasis platform e-commerce [18]. Contoh sukses dapat dilihat dari Singapura, yang melalui Enterprise Singapore menyediakan layanan satu atap untuk UMKM yang ingin mengekspor, termasuk bantuan penerjemahan, sertifikasi, dan pemasaran [13]. Tanpa langkah serupa, potensi ekspor digital Indonesia akan tetap terhambat oleh birokrasi yang rumit [21].

Kisah Sukses: Pelajaran dari Pemain Lokal yang Mulai Go Global

Beberapa pelaku e-commerce Indonesia telah membuktikan bahwa penetrasi pasar global dapat dicapai dengan strategi yang tepat. Bukalapak, misalnya, bermitra dengan Global Market America untuk membuka akses ke 200 juta konsumen di Amerika Serikat [20]. Kolaborasi ini memungkinkan UMKM mitra Bukalapak menjual produk seperti kopi dan kerajinan tangan secara langsung ke pasar AS tanpa perantara. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan volume ekspor tetapi juga memperkuat merek Indonesia sebagai penghasil produk berkualitas [10].

Tokopedia juga telah mengembangkan fitur ekspor melalui program Tokopedia Global Seller. Juga membantu UMKM memenuhi standar internasional seperti sertifikasi halal dan ISO [6]. Program ini telah membantu lebih dari 5.000 UMKM mengekspor produk ke 15 negara, dengan peningkatan omzet rata-rata 30% [11]. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan dukungan platform yang memahami kebutuhan lokal dan global, UMKM Indonesia mampu bersaing di pasar internasional [16].

Di sektor niche, pasar pet care Indonesia telah menunjukkan potensi ekspor yang menjanjikan. Data menunjukkan bahwa ekspor produk perawatan hewan melalui e-commerce meningkat 45% pada 2023, terutama ke negara-negara Timur Tengah dan Asia Timur [25]. Perusahaan seperti Pet Lovers Centre berhasil memanfaatkan platform lokal untuk memasarkan makanan hewan organik berbahan baku lokal ke pasar global. Hal ini membuktikan bahwa produk berbasis keunikan lokal dapat menemukan ceruk pasar internasional jika didukung oleh infrastruktur e-commerce yang tepat [22].

Kasus sukses lain datang dari industri kreatif. JAFF Market, pasar film digital yang dikembangkan oleh Jakarta Asian Film Festival, berhasil menarik pembeli dari 30 negara untuk membeli hak distribusi film Indonesia [24]. Platform ini tidak hanya memfasilitasi transaksi tetapi juga menyediakan layanan terjemahan, subtitel, dan pelatihan pemasaran untuk produser lokal [26]. Model ini dapat direplikasi ke sektor lain seperti musik, seni rupa, dan desain, yang memiliki potensi ekspor besar tetapi seringkali terhambat oleh kurangnya akses ke pasar global [23].

Rekomendasi Strategis: Membangun Platform E-Commerce yang Berfokus pada Ekspor

Indonesia membutuhkan platform e-commerce yang dirancang khusus untuk ekspor, dengan fitur yang menggabungkan keunggulan lokal dan standar global. Platform ini harus menyediakan layanan terintegrasi untuk sertifikasi produk, manajemen logistik internasional, dan pembayaran multivaluta [12]. Contohnya, integrasi dengan sistem kepabeanan global seperti Single Window di Singapura. Dimana memungkinkan pelaku UMKM mengurus dokumen ekspor hanya dalam satu kali klik [13]. Tanpa fitur semacam ini, proses ekspor akan tetap menjadi beban birokrasi yang menghambat pertumbuhan [18].

Investasi dalam infrastruktur pendukung juga menjadi prioritas. Pemerintah dan swasta perlu bekerja sama membangun gudang penyimpanan (fulfillment center) di lokasi strategis seperti Batam atau Tanjung Priok. Dimana yang terhubung langsung dengan pelabuhan internasional [11]. Gudang ini harus dilengkapi dengan teknologi IoT untuk melacak stok secara real-time dan sistem pemrosesan pesanan otomatis [19]. Contoh sukses dapat dilihat dari Malaysia, yang melalui Digital Free Trade Zone meningkatkan efisiensi ekspor UMKM hingga 40% [16].

Pelatihan kapasitas UMKM harus menjadi bagian integral dari platform ekspor. Program pelatihan harus mencakup pemasaran digital lintas budaya, manajemen rantai pasok internasional, dan pemahaman regulasi perdagangan [9]. Kemitraan dengan lembaga seperti LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dapat memastikan pelatihan ini menjangkau UMKM di seluruh Indonesia [21]. Selain itu, platform harus menyediakan layanan konsultasi langsung dengan ahli perdagangan internasional untuk membantu UMKM mengatasi masalah spesifik [17].

Kolaborasi dengan pemangku kepentingan global juga krusial. Indonesia perlu menjalin kemitraan dengan platform e-commerce mapan seperti Amazon Global Selling atau Alibaba.com untuk memanfaatkan jaringan distribusi mereka [20]. Namun, kemitraan ini harus dirancang untuk memastikan bahwa platform lokal tetap menjadi pusat ekosistem, bukan sekadar perantara [14]. Dengan model hybrid ini, Indonesia dapat mempercepat penetrasi global sekaligus mempertahankan kedaulatan ekonomi digital [19].

Kesimpulan: Membangun Jembatan Digital untuk Indonesia yang Berdaya Saing Global

Pengembangan platform e-commerce khas Indonesia bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menembus pasar global. Data menunjukkan bahwa pasar domestik yang besar tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Terutama ketika pertumbuhan ekonomi global semakin bergantung pada perdagangan digital [3]. Tanpa strategi ekspor yang terintegrasi, Indonesia berisiko terjebak sebagai pasar konsumen pasif yang hanya mengimpor nilai tambah dari negara lain [8].

Platform e-commerce lokal memiliki potensi untuk menjadi jembatan yang menghubungkan keunikan produk Indonesia dengan permintaan global. Dengan memadukan keahlian budaya lokal, infrastruktur pendukung yang tepat, dan kebijakan yang mendukung. Indonesia dapat memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam ekonomi digital global [6]. Contoh sukses dari Bukalapak, Tokopedia, dan JAFF Market membuktikan bahwa hal ini bukan sekadar mimpi, tetapi realitas yang dapat dicapai dengan komitmen kolektif [10].

Langkah selanjutnya memerlukan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan UMKM. Pemerintah harus mempercepat penyederhanaan regulasi dan investasi infrastruktur. Sementara sektor swasta perlu berinovasi dalam menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal dan global [15]. Bagi UMKM, partisipasi aktif dalam pelatihan dan kemitraan ekspor akan menjadi kunci keberhasilan [23]. Dengan langkah-langkah ini, Indonesia tidak hanya mampu menembus pasar global tetapi juga membangun ekonomi digital yang berkelanjutan dan berdaulat.

Referensi

  1. Indonesia – eCommerce: https://www.trade.gov/country-commercial-guides/indonesia-ecommerce
  2. Indonesia E-Commerce Sectors: https://www.trade.gov/market-intelligence/indonesia-e-commerce-sectors
  3. Indonesia’s E-commerce Market: Trends & Growth 2024-2027: https://paymentscmi.com/insights/indonesia-ecommerce-market-data/
  4. eCommerce in Indonesia: Revenues & Market Development | ECDB.com: https://ecdb.com/blog/indonesian-ecommerce-market-revenues-projected-to-cross-us-100-billion-in-2025/4573
  5. E-commerce in Indonesia – statistics & Facts | Statista: https://www.statista.com/topics/5742/e-commerce-in-indonesia/
  6. Indonesia’s E-commerce Market: Growth, Trends & Insights: https://anchanto.com/indonesia-e-commerce-industry/
  7. Indonesia E-commerce Market Size, Growth & Industry Analysis, 2030: https://www.mordorintelligence.com/industry-reports/indonesia-ecommerce-market
  8. Indonesia’s e-commerce market to surpass $46 billion in 2025, forecasts GlobalData – GlobalData: https://www.globaldata.com/media/banking/indonesias-e-commerce-market-surpass-46-billion-2025-forecasts-globaldata/
  9. The Future of E-Commerce in Indonesia: https://www.cekindo.com/blog/e-commerce-in-indonesia
  10. eCommerce Market Indonesia – Data, Trends, Top Stores: https://ecommercedb.com/markets/id/all
  11. Indonesia’s E-commerce Industry: Everything You Need to Know | Locad: https://golocad.com/blog/guide-to-indonesia-e-commerce-industry/
  12. Navigate the trends redefining e-commerce in Indonesia | DHL Discover Indonesia: https://www.dhl.com/discover/en-id/e-commerce-advice/e-commerce-trends/navigate-the-trends-redefining-e-commerce-in-indonesia
  13. eCommerce – Indonesia | Statista Market Forecast: https://www.statista.com/outlook/emo/ecommerce/indonesia
  14. Indonesia E-Commerce Business Report 2024: Gross Merchandise Value will Increase from $40.4 Billion in 2023 to Reach $63.2 Billion by 2028 – ResearchAndMarkets.com: https://www.businesswire.com/news/home/20240904648772/en/Indonesia-E-Commerce-Business-Report-2024-Gross-Merchandise-Value-will-Increase-from-$40.4-Billion-in-2023-to-Reach-$63.2-Billion-by-2028—ResearchAndMarkets.com
  15. Indonesia E-Commerce Market Size, Share | Analysis 2033: https://www.imarcgroup.com/indonesia-e-commerce-market
  16. Indonesia e-commerce market to remain the largest in ASEAN?: https://asiafundmanagers.com/indonesia-e-commerce-market-to-remain-the-largest-in-asean/
  17. Introduction to e-Commerce in Indonesia: https://www.globaleyez.net/en/introduction-e-commerce-indonesia
  18. Indonesia’s Online Commerce Journey: https://www.mckinsey.com/spContent/digital_archipelago/index.html
  19. Indonesia E-Commerce Market to Reach USD 760.8 Billion by 2033, Growing at 9.07% CAGR: https://www.openpr.com/news/4219940/indonesia-e-commerce-market-to-reach-usd-760-8-billion-by-2033
  20. Global Market America Worldwide SHOP.COM Ramaikan e-commerce Indonesia – Porosmedia.com: https://porosmedia.com/global-market-america-worldwide-shop-com-ramaikan-e-commerce-indonesia/
  21. Indonesia market 2025: https://gedeth.com/blog/2025/08/20/indonesia-market-overview/
  22. About Indonesia Product Global Company | Indonesia Business Directory: https://indonesia-product.com/Home/About.html
  23. Is Indonesia The Next Market to Breakout for E-Commerce? – ETREND: https://etrend.com/is-indonesia-the-next-market-to-breakout-for-e-commerce/
  24. Indonesia’s JAFF Returns for 20th Edition, Expands Market Component – JAFF Market: https://jaff-market.com/indonesias-jaff-returns-for-20th-edition-expands-market-component-2/
  25. JAFF 2025 Returns with JAFF MARKET – Strengthening the Indonesian Film Industry – JAFF Market: https://jaff-market.com/jaff-2025-returns-with-jaff-market-strengthening-the-indonesian-film-industry/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?