Daily lifeurban malang

Malang Raya, Dulu, Kini, dan Esok, Catatan Harry Waluyo

Dari Kota Apel hingga Megapolitan

Sore itu, di sudut Alun-Alun Kota Malang, seorang kakek paruh baya duduk santai sambil memandang Balai Kota yang megah. “Dulu, di sini masih sepi. Sekarang? Macet tiap hari,” ujarnya sembari tersenyum getir. Ucapan sederhana itu merangkum sebuah transformasi besar. Sekedar dari kota kecil yang sejuk menjadi kawasan metropolitan yang terus bertumbuh, menghadapi dilema antara kemajuan dan kelestarian.

Malang Raya—yang mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu—kini berdiri di persimpangan zaman. Kawasan dengan populasi lebih dari 3,5 juta jiwa ini tengah bergulat dengan pertanyaan fundamental: bagaimana membangun masa depan tanpa menghancurkan akar masa lalu?

Jejak Sejarah: Dari Tumapel hingga Kolonial

Sejarah Malang dimulai jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Pada abad ke-13, kawasan ini menjadi pusat Kerajaan Singhasari di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Candi Singosari dan Candi Kidal yang masih berdiri kokoh menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Nama “Malang” sendiri konon berasal dari kata “Malangkuçeçwara,” sebuah nama dalam prasasti kuno yang merujuk pada arca perusak yang mengalahkan kejahatan.

Transformasi besar terjadi saat era kolonial Belanda. Pada 1767, VOC resmi membuka wilayah Malang. Namun, baru pada 1 April 1914, Malang memperoleh status sebagai gemeente (kota praja) dan menjadi salah satu kota penting di Hindia Belanda. Belanda membangun infrastruktur modern: jalan-jalan lebar dengan pepohonan rindang, sistem drainase yang baik, dan bangunan-bangunan bergaya Indische yang kini menjadi cagar budaya.

“Malang adalah laboratorium urbanisme tropis Belanda,” kata Dr. Handinoto, sejarawan arsitektur dari Universitas Petra Surabaya. “Tata kota yang mereka rancang dengan konsep garden city masih terasa hingga kini, terutama di kawasan pusat kota.”

Pasca kemerdekaan, Malang sempat menjadi ibukota Provinsi Jawa Timur sementara pada 1947-1948 saat Surabaya dikuasai Belanda. Peran strategis ini menegaskan posisi Malang dalam peta politik dan ekonomi regional.

Bentang Alam: Berkah yang Terancam

Malang Raya dianugerahi geografis istimewa. Terletak di dataran tinggi dengan ketinggian 440-667 meter di atas permukaan laut, kota ini dikelilingi pegunungan berapi: Gunung Arjuno, Welirang, Semeru, Kelud, dan Kawi. Kondisi vulkanis ini menciptakan tanah yang subur dan iklim sejuk dengan suhu rata-rata 23-26°C, menjadikan Malang sebagai “Kota Apel” dan pusat pertanian hortikultura.

Sungai Brantas yang mengalir melintasi wilayah ini telah menjadi sumber kehidupan selama berabad-abad. DAS (Daerah Aliran Sungai) Brantas menghidupi jutaan penduduk, tidak hanya di Malang tetapi juga di hilir hingga Surabaya.

Namun, berkah alam ini kini terancam. Data dari Badan Lingkungan Hidup Kota Malang menunjukkan penurunan ruang terbuka hijau (RTH) dari 20,8% pada 2010 menjadi hanya 12,4% pada 2023. Data yang jauh di bawah standar minimal 30% yang diamanatkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

“Konversi lahan hijau menjadi perumahan dan pusat perbelanjaan terjadi sangat masif,” ungkap Joni Hermawan, aktivis lingkungan dari Malang Corruption Watch. “Di Kota Batu saja, dalam lima tahun terakhir, sedikitnya 300 hektar lahan pertanian beralih fungsi menjadi vila dan hotel.”

Dampaknya nyata: suhu udara Malang naik 1,5°C dalam dua dekade terakhir. Banjir dan longsor lebih sering terjadi. Mata air yang dulu melimpah kini banyak yang kering. Malang bukan lagi kota sejuk yang dulu dikenal—ia kini berubah menjadi kota panas yang sesak.

Mozaik Budaya. Akulturasi yang Kaya.

Malang adalah pertemuan berbagai budaya. Masyarakat asli suku Arema (Arek Malang) hidup berdampingan dengan komunitas Jawa pesisir, Madura, Tionghoa, Arab, dan pendatang dari berbagai penjuru nusantara. Keragaman ini melahirkan kekayaan budaya yang unik.

Bahasa Walikan, bahasa sandi khas Malang yang membalik suku kata, menjadi identitas lokal yang ikonik. Kata “Malang” dibaca “Ngalam,” “pasar” menjadi “sarpa.” Konon, bahasa ini berkembang pada masa perjuangan kemerdekaan sebagai kode rahasia para pejuang, dan kini menjadi kebanggaan warga Malang.

Dari sisi kuliner, Malang menawarkan kekayaan cita rasa. Bakso Malang yang legendaris dengan komposisi lima jenis bakso, Cwie Mie dengan cita rasa khas Tionghoa-Jawa, Rawon Nguling yang menggugah selera, hingga Apel Malang yang terkenal hingga mancanegara. Setiap hidangan menceritakan kisah akulturasi budaya yang harmonis.

Seni dan tradisi juga tetap hidup. Topeng Malangan, wayang topeng khas Malang yang berakar dari masa Kerajaan Singhasari, masih lestari hingga kini. Setiap tahun, Festival Malang Kembali diadakan untuk merayakan ulang tahun kota dengan pawai budaya yang memukau.

“Malang itu laboratorium keberagaman,” ujar Prof. Dr. Sutarto, antropolog dari Universitas Brawijaya. “Di sini, Anda bisa menemukan klenteng, masjid, gereja, dan pura dalam radius satu kilometer. Dan mereka hidup rukun.”

Dinamika Sosial: Antara Tradisi dan Modernitas

Malang adalah kota pendidikan. Dengan lebih dari 50 perguruan tinggi, termasuk Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, kota ini menjadi magnet bagi ratusan ribu mahasiswa dari seluruh Indonesia. Populasi mahasiswa yang mencapai 150.000 orang membentuk karakter kota yang dinamis, kreatif, dan progresif.

Kehadiran mahasiswa mengubah wajah sosial Malang. Cafe, co-working space, dan startup bermunculan. Ekonomi kreatif tumbuh pesat. Malang menjadi salah satu ekosistem startup terbaik di luar Jakarta, dengan puluhan perusahaan rintisan berhasil mendapat pendanaan dari investor nasional dan internasional.

Namun, pertumbuhan pesat ini juga membawa masalah. Harga sewa kos dan kontrakan meroket, membuat mahasiswa dari ekonomi menengah ke bawah kesulitan. Gentrifikasi terjadi di banyak kampung kota—warga asli terpaksa pindah karena tidak mampu lagi membayar pajak dan biaya hidup yang naik drastis.

Ketimpangan sosial semakin terasa. Data BPS Kota Malang 2023 menunjukkan Gini Ratio mencapai 0,398—mendekati batas atas ketimpangan moderat. Kawasan mewah seperti Dieng dan Tlogomas kontras tajam dengan permukiman padat di kawasan Gadang dan Kedungkandang.

“Ada dua Malang yang berbeda,” kata Ibu Sumarti, pedagang sayur di Pasar Oro-oro Dowo. “Malang untuk orang kaya dengan mal dan restoran mahal, dan Malang untuk orang seperti kami yang semakin susah cari nafkah.”

Ekonomi: Dari Agraris ke Jasa dan Pariwisata

Transformasi ekonomi Malang Raya sangat signifikan. Jika dulu ekonomi bertumpu pada sektor pertanian—terutama apel, sayuran, dan tembakau—kini sektor jasa dan pariwisata mendominasi. Data menunjukkan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kota Malang hanya 2,4%, sementara sektor perdagangan, hotel, dan restoran mencapai 28,7%.

Kota Batu menjadi contoh transformasi paling dramatis. Dari daerah agraris penghasil apel, kini Batu menjadi destinasi pariwisata unggulan Jawa Timur dengan Jatim Park, Museum Angkut, dan Batu Night Spectacular yang menarik jutaan wisatawan setiap tahun. Pendapatan asli daerah Kota Batu melonjak 400% dalam satu dekade.

Namun, kesuksesan ini tidak tanpa biaya. Petani apel terdesak oleh industri pariwisata. Lahan pertanian beralih fungsi menjadi vila dan hotel. Produksi apel Malang turun 35% dalam sepuluh tahun terakhir. Banyak petani beralih profesi menjadi sopir, tukang, atau buruh bangunan.

“Anak saya tidak mau jadi petani lagi,” keluh Pak Darmo, petani apel di Desa Tulungrejo, Batu. “Mereka bilang, lebih enak kerja di hotel atau jadi ojek online. Penghasilan lebih pasti.”

Di sisi lain, sektor industri manufaktur tetap bertahan, terutama industri tekstil, makanan-minuman, dan furniture. Zona industri PIER (Pusat Industri dan Perdagangan Malang) menjadi penopang perekonomian dengan menyerap puluhan ribu tenaga kerja.

Ekonomi kreatif juga menjadi harapan baru. Malang melahirkan banyak desainer, animator, developer aplikasi, dan content creator yang berhasil menembus pasar nasional dan internasional. Pemerintah daerah mulai serius mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif dengan membangun creative hub dan memberikan insentif bagi pelaku industri kreatif.

Tantangan Pembangunan: Dilema Urban Sprawl

Malang Raya menghadapi fenomena urban sprawl. Yakni pertumbuhan kota yang tidak terkendali ke pinggiran. Perkembangan Kota Malang yang terbatas wilayah administrasinya (hanya 110 km²) mendorong ekspansi masif ke Kabupaten Malang, menciptakan kawasan metropolitan yang de facto belum terkelola dengan baik.

Dampak paling terasa adalah kemacetan. Jalan Ijen, Jalan Soekarno-Hatta, dan Jalan Tlogomas macet total hampir sepanjang hari. Pertumbuhan kendaraan bermotor mencapai 8% per tahun, sementara pertambahan jalan hanya 0,5% per tahun. Polusi udara meningkat, dengan konsentrasi PM2.5 sering melampaui standar WHO.

Masalah air bersih juga krusial. Eksploitasi air tanah berlebihan menyebabkan penurunan muka air tanah hingga 2-3 meter per tahun. Banyak sumur warga mengering. PDAM kesulitan memenuhi kebutuhan air karena sumber air permukaan tercemar dan berkurang.

Sampah menjadi masalah pelik. Produksi sampah Kota Malang mencapai 450 ton per hari, namun TPA Supit Urang sudah overload. Pengelolaan sampah belum optimal—tingkat daur ulang baru mencapai 15%, jauh di bawah target nasional 30%.

“Kita sedang membangun di atas bom waktu,” kata Arif Rahman, urban planner dari Institut Teknologi Nasional Malang. “Jika tidak ada tindakan drastis dalam 10 tahun ke depan, Malang akan menghadapi krisis ekologis yang serius.”

Esok: Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Sadar akan tantangan ini, Pemerintah Kota Malang mulai mengusung konsep pembangunan berkelanjutan. Roadmap Malang 2045 menempatkan keberlanjutan sebagai pilar utama pembangunan, dengan fokus pada tiga aspek: ekonomi inklusif, lingkungan lestari, dan sosial berkeadilan.

Beberapa program inovatif telah diluncurkan. Program “Kampung Iklim” mengajak warga mengelola sampah, menanam pohon, dan menghemat energi. Hasilnya mengesankan: 50 kampung telah menjadi kampung iklim dengan penurunan emisi karbon hingga 30%.

Sistem transportasi publik juga ditingkatkan. Malang Transit System (MTS) dengan armada bus listrik mulai beroperasi di koridor utama. Jalur sepeda sepanjang 15 kilometer dibangun untuk mendorong transportasi ramah lingkungan.

Revitalisasi sungai dan situ (danau kecil) dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologis dan estetika. Sungai Brantas yang dulu hitam dan berbau kini mulai bersih. Situs Bunul dan Situs Bejisari dikembangkan menjadi ruang publik hijau yang menyejukkan.

Di sektor ekonomi, Malang mengembangkan konsep “agrowisata berkelanjutan.” Petani tidak hanya menjual hasil tani, tetapi juga membuka kebun untuk wisata edukasi. Konsep ini memberikan nilai tambah ekonomi sambil melestarikan pertanian.

Pemerintah Kota Batu meluncurkan program “Batu Organik” yang mewajibkan hotel dan restoran menggunakan produk pertanian organik lokal. Ini meningkatkan pendapatan petani sambil menjaga kesehatan tanah dan konsumen.

Namun, tantangan terbesar adalah mengubah mindset. “Pembangunan berkelanjutan bukan hanya urusan pemerintah,” tegas Wali Kota Malang, Sutiaji. “Ini butuh keterlibatan semua pihak—warga, pengusaha, akademisi, dan mahasiswa. Kita harus berubah dari konsumtif ke konservatif, dari eksploitatif ke restoratif.”

Kolaborasi dan Harapan

Gerakan dari bawah juga bermunculan. Forum Warga Peduli Lingkungan Malang aktif melakukan advokasi kebijakan. Komunitas Sepeda Malang menggalakkan bike to work. Startup seperti “Greeneration” dan “Waste4Change” membangun sistem pengelolaan sampah berbasis teknologi.

Universitas Brawijaya dan UIN Malang meluncurkan riset bersama untuk mengembangkan teknologi pertanian urban dan energi terbarukan. Prototipe vertical farming dan biogas rumah tangga sudah mulai diuji coba di beberapa kelurahan.

Sektor swasta juga bergerak. Beberapa developer properti berkomitmen membangun perumahan ramah lingkungan dengan konsep green building. Mall dan pusat perbelanjaan mulai menggunakan energi surya dan sistem pengolahan air limbah.

“Kami percaya bisnis bisa berkelanjutan sekaligus menguntungkan,” kata Ahmad Zaki, CEO salah satu developer ternama di Malang. “Konsumen sekarang lebih sadar lingkungan. Properti hijau justru lebih laku.”

Epilog: Malang yang Kita Wariskan

Sore itu, di Balai Kota Malang, puluhan anak muda berkumpul dalam forum diskusi “Malang 2045.” Mereka adalah generasi yang akan mewarisi kota ini—generasi yang tidak kenal Malang sejuk nan hening, namun bertekad mengembalikan kejayaan itu.

“Saya ingin cucu saya kelak bisa merasakan Malang yang sejuk, hijau, dan ramah,” kata Dinda, mahasiswi aktivis lingkungan berusia 21 tahun. “Untuk itu, kita harus bertindak sekarang. Tidak ada waktu lagi untuk menunda.”

Malang Raya berdiri di persimpangan. Ia bisa menjadi model pembangunan kota berkelanjutan yang menginspirasi, atau tenggelam dalam krisis ekologis dan sosial akibat pembangunan yang rakus. Pilihan ada di tangan kita semua.

Seperti kata pepatah Jawa yang sering dikutip para sesepuh Malang: “Wong Malang iku kudu mikir nganti pitu turunan”—Orang Malang harus berpikir hingga tujuh generasi ke depan. Kearifan lokal ini mungkin adalah kunci untuk membuka masa depan Malang yang berkelanjutan.

Di langit sore Malang yang mulai berubah jingga, harapan itu masih bersinar. Malang masih bisa kembali hijau. Masih bisa sejuk. Masih bisa menjadi rumah yang nyaman bagi semua—jika kita mulai hari ini, mulai dari diri sendiri, mulai dengan langkah kecil yang konsisten.

Malang Raya: dari jejak sejarah yang agung, melewati kini yang penuh tantangan, menuju esok yang berkelanjutan. Perjalanan ini bukan hanya tentang membangun kota, tetapi tentang mewariskan kehidupan yang layak bagi generasi mendatang.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik Kota Malang. (2023). Kota Malang dalam Angka 2023. BPS Kota Malang.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang. (2023). Kabupaten Malang dalam Angka 2023. BPS Kabupaten Malang.

Badan Lingkungan Hidup Kota Malang. (2023). Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Malang Tahun 2023. Pemerintah Kota Malang.

Handinoto. (2010). Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang. Andi Offset.

Pemerintah Kota Malang. (2022). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Malang 2018-2023. Bappeda Kota Malang.

Pemerintah Republik Indonesia. (2007). Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Lembaran Negara RI Tahun 2007 No. 68.

Setyawan, B., & Wulandari, D. (2020). Transformasi ekonomi dan perubahan tata guna lahan di Kota Batu. Jurnal Ekonomi Pembangunan Indonesia, 20(2), 145-162. https://doi.org/10.21002/jepi.2020.12

Sutarto. (2018). Kebudayaan Malang: Mozaik Akulturasi dan Harmoni. Universitas Brawijaya Press.

Widodo, B., Lupiyanto, R., & Wijaya, A. R. (2021). Analisis perubahan tutupan lahan dan dampaknya terhadap suhu permukaan di Malang Raya. Jurnal Teknik Lingkungan, 27(1), 23-36. https://doi.org/10.5614/jtl.2021.27.1.3

World Health Organization. (2021). WHO Global Air Quality Guidelines: Particulate Matter (PM2.5 and PM10), Ozone, Nitrogen Dioxide, Sulfur Dioxide and Carbon Monoxide. WHO.

Zulkarnain, I., & Rahman, A. (2022). Urban sprawl dan tantangan pembangunan berkelanjutan di kawasan metropolitan Malang. Indonesian Journal of Urban and Environmental Technology, 5(2), 178-195. https://doi.org/10.25105/urbanenvirotech.v5i2.10245

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?