Diduga ada Candi di Ketawanggede Lowokwaru tinggalan abad 8-10 Masehi
Sebagai daerah yang dikenal sebagai tempat kost-kostan mahasiswa UB, ternyata Ketawanggede memiliki sejarah masa klasik yang tak kalah pentingnya bagi sejarah lokal. Ketawanggede terletak di sebelah selatan sungai Brantas dan dilewati jalan purba yang hubungkan daerah Ngantang Batu dengan Malang. Daerah ketawanggede berbatasan dengan wilayah Merjosari dibagian barat dan berbatasan dengan wilayah Penanggungan di sebelah timur. Sedangkan disisi utara berbatasan dengan wilayah Dinoyo dan Sungai Brantas. Kemudian di sisi selatan, ketawanggede berbatasan dengan wilayah Sumbersari.
Ketawanggede juga memiliki banyak tinggalan arkeologis era klasik masa hindu budha. Hal ini ditunjukan dengan adanya sebaran batu arkhais masa lalu yang tersebar di sekitar daerah Ketawanggede, Merjosari, Dinoyo, Tlogomas dan Gasek Karangbesuki. Dimana menurut catatan Belanda pada Prasasti Wurandungan terungkap adanya gugusan khayangan di daerah tersebut. Khayangan yang dimaksud itu konon bisa berarti tempat-tempat suci yang memiliki sinar ilmu pengetahuan. Hal ini paling tidak ada kesesuaian bahwa di daerah Malang Barat seperti Ketawanggede, Dinoyo, Merjosari hingga Karangbesuki terdapat beberapa lokasi reruntuhan diduga struktur semacam candi.

Lantas dimana saja reruntuhan itu berlokasi ? Paling tidak ada beberapa tinggalan masa klasik yang masih relatif utuh pada radius 3 km dari Ketawanggede. Dan lainnya sudah tinggal menjadi ingatan masyarakat saja. Pertama adalah keberadaan Candi Badhut di Karangbesuki yang berada di sebelah barat daya Ketawanggede sekitar 3 km jauhnya. Kedua yakni reruntuhan candi Wurung (Gasek) di pemakaman Islam Karangbesuki berjarak sekitar 2,5 km di arah barat daya dari Ketawanggede. Sisanya diduga berada di area komplek SD Dinoyo 1, area kampus Universitas Gajayana Malang, area Taman Merjosari, area Joyo dekat sumber air Clumprit, area sekitar jalan Watugong. Selanjutnya untuk sisa lokasi lainnya hilang tak tahu rimbanya.
Ada hal yang khusus di daerah Ketawanggede yakni dengan adanya sebutan Watu Gilang, Watu Gong, dan Watu Mujur. Dimana hal ini adalah sebuah petunjuk adanya sebaran batu dengan bentuk yang berbeda-beda. Penyebutan Watu Gong atau Watu Kenong merujuk pada batu andesit yang digunakan sebagai pondasi bangunan (umpak). Dimana tiang penyangga bangunan yang terbuat dari bahan organik seperti kayu atau bambu, tersebut berpijak ke pondasi batu tersebut.
Dalam catatan laporan Belanda terdapat benda purbakala di desa Ketawanggede, distrik Penanggungan afdeling Malang, yakni berasal dari buku laporan Oudheidkundig verslag tahun 1923. Sedikitnya ada 6-7 item benda dimaksud yaitu arca ganesha, pipi tangga candi, door pal, yoni, hiasan candi antefix, batu shima dan lain-lain. Sebagian besar tinggalan arkeologis ini tersimpan di Museum Mpu Purwa Malang, meskipun ada sebagian besar sudah tak tampak lagi di lokasi yang pernah diingat warga. Wahyu Kristiyanto warga RW 02 Ketawanggede memberikan kesaksian bahwa batu pipi candi sempat dimainkan sebagai kuda-kudaan. Yaitu saat dia masih kecil di tahun 1997-1999, benda cagar budaya itu masih berada di halaman TK Cempaka Jalan Kertosentono nomor 103 Ketawanggede.
Saat ini beberapa tinggalan arkeologis daerah Ketawanggede berada di sebuah lokasi pengumpulan benda cagar budaya dari batuan andesit di bawah sebuah cungkup di area MCDonalds jalan Watugong Malang. Terdapat banyak batuan andesit berupa lumpang, watu gong, yoni dan sebagainya berkumpul dalam satu lokasi tersebut.

Pada kegiatan jelajah kampung Ketawanggede di 20 September 2025 lalu, arkeolog M. Dwi Cahyono mengungkapkan dugaan adanya percandian di Ketawanggede. Hal ini diperkuat dengan adanya beberapa benda yang merujuk adanyanya sebuah candi.
Pertama, temuan beberapa Yoni di cungkup area MCD Watugong menyiratkan beberapa hal. Yaitu adanya Yoni yang ceratnya masih menghadap ke arah Utara, dapat ditafsirkan bila Yoni tersebut masih insitu (berada di lokasi aslinya). Meskipun yoni lainnya sudah tidak beraturan. Pada cungkup di area MCD tersebut juga ditemukan beberapa watu kenong/watu gong yang berfungsi sebagai pelandas atau umpak dari sebuah bangunan. Dan disana terdapat Yoni sebanyak 2 buah dan satu batu mirip yoni namun tidak memiliki cerat seperti layaknya yoni biasa. Dwi Cahyono memastikan batu tersebut adalah bagian dari puncak candi yang menjadi pelandas sebuah pamuncak candi.

Kedua, temuan batu cagar budaya di Ketawanggede pada awal abad ke 20 yang dilaporkan oleh Belanda menyebutkan paling tidak ada beberapa benda. Yaitu berupa Arca Ganesha, Batu Shima, Yoni, Pipi tangga candi dan Antefix. Benda-benda tersebut ada yang masih dapat dijumpai di lantai 2 Museum Mpu Purwa, yaitu arca ganesha, batu shima dan antefix. Sedangkan batu pipi tangga candi tidak diketahui lagi. Arca Ganesha dapat ditemukan terpisah dari relung sebuah candi, namun besar dugaan Arca Ganesha tersebut berasal dari relung sebuah candi. Hal ini diperkuat dengan adanya Antefix yakni hiasan pada atap candi dan batu pipi tangga candi. Khusus pipi tangga candi ini terlihat tidak memiliki hiasan rumit namun sederhana dan memiliki ugel . Sehingga semakin kuat dugaan bahwa batu pipi tangga candi, Arca Ganesha dan antefix tersebut berasal dari rentuhan sebuah Candi. Kuat dugaan ini adalah bagian dari sebuah candi di Ketawanggede.
Ketiga, temuan kumpulan benda cagar budaya dia area MCD Watugong terutama Yoni yang bercerat hadap utara dan pelandas pamuncak candi memberikan tanda keberadaan candi. Namun bila menilik dari lokasi temuan yang diduga candi tersebut masih ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adanya sebuah candi dilokasi tersebut. Sebuah candi memerlukan sebuah patirtan dan aliran air. Dengan mudah dapat ditunjuk bahwa di sebelah utara lokasi situs Watugong Ketawanggede tersebut terdapat mata air yang diduga adalah patirtan. Lokasi patirtan ini hanya 80 meter dari utara area situs Watugong Ketawanggede, yang sempat berubah menjadi pabrik Es batu. Pabrik es tersebut memanfaatkan sumber air sebagai bahan baku pembuatan es batu. Sumber air ini menandakan adanya patirtan yang berkaitan erat dengan candi yang berada di sebelah selatannya. Keberadaan sungai Brantas semakin mengkokohkan adanya percandian di dekatnya.

Berdasarkan penemuan-penemuan dan bukti arkeologis tersebut, maka dapat diduga bahwa Ketawanggede memiliki sebuah candi tempat ritual di era klasik. Selanjutnya candi ini bercorak hindu dengan perkiraan didirikan pada abad 8-10 Masehi. Sungguh suatu temuan menarik yang dapat menambah keyakinan bahwa Ketawanggede pada masa lampau merupakan sebuah mandala kedewataguruan. Dimana tradisi tersebut berlanjut hingga sekarang yakni keberadaan kampus Universitas Brawijaya dengan sivitas akademinya. (abu)
