Art and Cultureperformance

Kilas Narasi Pertunjukan Arca Tatasawara di Candi Kidal, catatan M. Dwi Cahyono

Pertunjukan musikal ini bertema “Harmoni Candi Nada Zaman”. Mengapa diberi tema demikian? Pertama, karena harmoni” merupakan salah satu prinsip dalam olah bunyi untuk menghasilkan “bunyi musikal”. Har- moni bunyi musikal terbentuk oleh paduan bunyi dua atau lebih nada yang dimainkan secara bersamaan, hingga menghasilkan keselarasan dan keindahan dalam musik. Sejumlah luaran bunyi dari beragam jenis waditra (music instrument) “diharmonisasikan” untuk menciptakan orkestrasi bunyi. Tanpa harmoni, niscaya cuma hadir keruwetan bunyi.

Adapun unsur kata “candi” dalam kalimat tema ini menunjuk kepada lokasi dimana perhelatan musikal ini dihrlat yakni pada pelataran Candi Kidal. Candi sebagai warisan budaya masa lampau juga menjadi sumber inspirasi untuk menggubah lirik- lirik lagu Arca Tata Sawara. Pada arsitektur candi terdapat “prinsip “harmoni”, yang merujuk pada keseimbangan dan keselarasan dalam desain, arsitektur, filosofi yang ter-kandung. Candi sebagai “bangunan suci” memperlihatkan hubungan harmonis antara seni bangun dan lingkungan sekita yang berupa gunung suci, sumber air suci (tirtha), kali suci., dsb. Pada ritual di candi terjalin pula relasi harmonis antara manu-sia dan Dewata yang dipujanya.

Candi sebagai warisan budaya masa lalu merepresentasikan jiwa zaman (zeit gesit). Serupa dengan musik tradisional, yang juga merepresentasikan nada zaman, yakni karakteristik musik yang berkembang pada suatu periode atau zaman tertentu. Setiap zaman dalam sejarah musik memiliki ciri khasnya masing-masing dalam hal gaya, harmoni, melodi, ritme, dan penggunaan alat musik. Bahkan, pada sejumlah candi di Jawa terdapat relief-relief candi yang memvisualkan aneka jenis dan bentuk waditra, baik sebagai waditra tunggal ataupun kumpulan sejumlah waditra dalam suatu asambel musik. Harmoni bunyi musika yang dihasilkannya menggambarkan tentang produk seni musik yang diminati oleh khalayak pada zamannya.

Demikianlah, “harmoni candi nada zaman” merupakan metafora harmoni bunyi musikal yang terwariskan dari waktu ke waktu dalam lintas generasi. Berwujud sebagai ” teadsi musik”, yang mempresentasikan olah nada yang selaras dengan minat dari para penggunanya pada zamannya. Musik tradisional serupa dengan candi sebagai cagar budaya, yang hadir sebagai warisan budaya, yang karena perlu dilestarikan dan digayagunakan untuk beragam keperluan.

SIRAT MAKNA PADA LIRIK DAN BUNYI MUSIKAL

Pertunjukan musik ini menyajikan delapan karya musikal, yang terdiri atas empat musik berlirik dan empat musik tak berlirik (instrumetalia). Berikut ini makna masing-masing lirik dan bunyi musikalnya.

  1. Musika Instrumentalia (non-lyrics)

Ada empat sajian musika instrumetalia, yaitu : (1) Jegeg Sajan, (2) Singgah, (3) Javarabia, serta (4) Garudeya. Sajian musi-ka ini hadir “tanpa lirik (syair) lagu “. Atau kalaupun ada yang berlirik, hanya berupa lirik lagu pendek. Kendati tanpa lirik, namun sebagaimana tergambar pada judul musik dan olah nada musikanya, keempat musik instrumen ini memiliki natasi serta mengandung gambaran dan pesan (makna). Beat musika untuk masing-masing diselaraskan dengan narasi musikalnya. Begitu pula tarian yang menyertainya sengaja diselaraskan dengan narasinya.

1.1. Judul ” JEGEG SAJAN”

Sebutan “jegeg” dalam bahasa Bali secara harafiah berarti cantik, rupawan atau .elok. acapkali sebutan ini digunakan untuk me- nyapa perempuan muda atau remaja putri, lebih khusus untuk wanita kasta Brahmana dengan panggilan “tugek”-gabungan dari kata “ratu” dan “jegeg”. Sebutan yang lebih singkat adalah “gek” atau “geg”. Bisa juga tambahkan kata “sajan” yang berarti : sung- guh, benar-benar, atau sangat. Dengan demikian “jegeg sajan” menunjuk pada gadis Bali yang amat cantik. Bukan hanya cantik fisisnya (outer beauty), namun sekaligus cantik kepribadian, karakter maupun budi pekertinya. Aura kecantikan gadis Bali terpancar manakala tampil dengan busana tradisional ketika menyelenggarakan puja Dewata di pura atau pada perhelatan adat lainnya. Kecantikan yang demikian dapat dibandingkan dengan kecantikan Dewi Sa- raswati sebagai istri (sakti) Dewa Brahma, atau kecantikan Ken Dedes yang oleh kitab gancaran Pararaton diistilahi denga “hayu anulus” atau “sulistya stri”. Sesuai judulnya, instrumen musik ini memiliki beat “musika Bali”, dan disertai dengan tarian Bali.

1.2. Judul : SINGGAH

Kata “singgah” berarti : berhenti sebentar di suatu tempat ketika dalam perjalanan, atau mampir. Pada instrumen musik ini, pihak yang digambarkan melakukan persinggahan di Nusantara adalah etnik Cina, sebagaimana tergambarkan pada adanya orang-orang “Cina Keturunan” di pantai timur Sumatra, yang konon menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya. Para wanita Cina Keturan ini di Palembang dan Bangka diberi sebutan “amoi”, yang secara fisiografis memiliki karakter Mongoloid. Ada lirik lagu pendek pada instrumetalia yang memiliki beat musika Tiong Hoa dan Melayu ini. Kehadiran orang-orang Cina Perantau di Palembang dan sekitarnya menjadi picu bagi hadirnya kota-kota dagang di pantai timur Sumatra pada masa lalu yang berada di jalur perniagaan laut “Selat Malaka” dalam konteks “Jalur Sutra Laut (Silk Road Sea)” dan “Jalur Rempah Nusantara”.

1.3. Judul : JAVARABIA”

Sebutan “Javarabia” adalah kata gabung, yang terdiri dari kata “Jawa” dan “Arabia”. Sesuai dengan judulnya, musik instrumen ini memiliki beat musika Timur Tengah dan Jawa, yang menggambarkan tentang ada- nya pengaruh budaya Arab terhadap musik tradisional Nusantara. Pengaruh agama dan budaya Islam memasuki Nusantara sejak abad XI Masehi, dengan jejak tertua didapatii di situs Leran di pesisiran Gresik dan situs Pasai di Aceh pada abad XIII Masehi, yang diawali oleh pengaruh budaya Islam Persia dan Gujarat. Sajian instrumen musik ini disertai dengan “tari sufi” yang berasal dari Turki.

1.4. Judul : GARUDEYA

Sebagai sebutan, “Garudeya” menunjuk ke- pada judul cerita, yang terkait dengan kisah “Sakudramantana (Amretamantana)” yang termaktub dalam parwa pertama wuracarita “Mahabharatta”, tepatnya “Adiparwa”. Ki- sah “Garudeya” hadir pula secara visual da- lam bentuk relief candi, yang dipahatkan di Candi Kidal, Kedaton, Sukuh dan Rimbi era Majapahit. Kisah yang mengusung pesan “Bhakti Suputra (Garuda) terhadap Ibunya (Dewi Winata)” ini berkisah tentang ikhtiar dari Garuda untuk membebaskan Bunda dan dirinya dari perbudakan keluarga Ka- dru. Kisah dan visualisasi Sang Garuda juga menjadi sumber inspirasi untuk pem- buatan lambang negara Garuda Pancasila.

Pada candi Kidal, yang merupakan tempat pendharmaan bagi arwah raja Anusapati, relief cerita “Garudeya” dipahatkan di kaki (basement) candi dalam tiga panik dengan pola baca prasawya (berlawanan dengan arah jarum jam). Sebenarnya, mitologi tentang burung perkasa bukan hanya ada di Jawa, tapi juga kedapatan di Kalimantan (berupa burung Enggang), di Amerika Latin (berupa burung Caphucinbird), Cina (berupa burung Phoenix atau Hong), dsb. Sajian instrumen musik ini oleh karenanya dibuat dengan memgkombinasi beat musik Jawa, Kalimantan dan Latin dengan olah kreasi musika sefikit modern.

  1. Musikal Berlirik

Ada empat lagu berlirik yang disajikan, yaitu : (1) Malang, (2) Pertanian, (3) Nusanta- ra, serta ( 4) Bayang Candi Muara Jambi. Lantaran berlirik, maka narasi dari masing- masing lagunya telah tergambar jelas pada liriknya. Kemasan musikalnya duselarakan dengan narasi masing-masing lagu. Begitu pula tarian yang menyertainya. Lirik lagu- lagu tersebut menyiratkan pesan dan makna sebagaimana dipaparkan berikut ini.

2.1. Judul : MALANG

Sesuai judul dan liriknya, lagu ini mengam- barkan tentang eko-sosio-kultura Malang, baik sebagai dataran tinggi (plateau) yang berada di lingkungan gunung, daerah yang bersejarah dan kaya budaya, serta kawas- an wisata saujana yang mempesona. Oleh karena itu, bagi orang dari daerah lain atau dari manca negara yang pernah singgah, berkunjung atau menetap sementara di Malang, ada rasa “kerasan” ketika tinggal di Malang, dan ada memori yang mengenang di hati ketika memggalkannya. Suatu me-mori manis yang kelak bisa menumbuhkan kerinduan untuk kembali bertandang, lagi dan lagi. Malang adalah suatu kawasan saujana uang berpanorama elok dengan hawa yang sejuk. Sebuah kota bunga, dan sekaligus kota budaya yang menyemat di hati, hingga menjadi “kota kenangan” yang “tak terlupakan”.

2.2. Judul : PERTANIAN

Pencaharian hidup utama yang menyejarah di Indonesia adalah pertanian (agraris). Je- jak agrarisnya kedapatan semenjak Zaman Prasejarah, dan berlanjut hingga memasuki lapis-lapis masa di Zaman Sejarah. Potensi pertanian tergambar kuat di Jawa, seperti dinyatakan oleh prasasti Canggal (732 M) bahwa Dwipajawa adalah pulau yang kaya akan padi-padian. Pengolahan lahan untuk budidaya tanaman pertanian dilakukan ba- ik dengan ekstensifikasi ataupun intensifi- kasi. Sistem intensifikasi ditopang dengan irigasi yang memadai. Panil relief di Candi Borobudur menggambarkan pengolahan lahan basah dengan bajak yang ditarik oleh sepasang lembu, seperti yang digunakan hingga era pra-traktior.

Digambarkan pula tentang adanya persawahan dengan padi yang tumbuh subur, namun acap terserang hama tikus. Relief di Candi Borobudur dan percandian lain juga menggambarkan tentang peristiwa panen padi. Begitu penting budidaya padi, sampai-sampai istri (sakti) Dewa Wisnu, yaitu Dewi Sri, dikonsepsikan sebagai “Dewi Padi”. Selain itu, sebutan untuk desa yang semula adalah “wanua” mulai era Kadiri (abad XII M.) diubah menjadi “thani’. Hal ini sebagai petunjuk bahwa pertanian merupakan pilar ekonomi utama pedesaan di Jawa. Tanah yang subur menjadi areal budidaya tanaman yang menciptakan kehidupan yang “gemah ripah loh jinawi”.

2.3. Judul : NUSANTARA

Lagu berjudul “Nusantara” ini berkisah tentang Nusantara di era Majapahit, tepatnya mengenai doktrin politik bervisi “integrasi (persatuan)” yang dilansir oleh Gajahmada dengan sebutan “Hamukti Palapa” pada era pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi dan berlanjut memasuki era Hayamwuruk. Bisa dikatakan bahwa “Sumpah Palapa” adalah penerapan ulang yang lebih kuat mengenai doktrin politik serupa pada era pemerintah-an Kretanagara di Singhasari, yang dinamai “Cakrawalamanda Nusantara”. Terisrat da- lam Hamukti Palapa dan Cakrawalaman- dala Nusantara perihal “spirit (semangat) penyatuan Nusantara”, yang berkobar kuat ibarat semangat “dadak merak (komponen dalam Reyog Ponorogo)”, yang dalam sajian dijadikan sebagai tarian latar. Selain itu, pada sajian ini juga dikumandangkan teks “Sumpah Palapa”. Beat musika mengarah kepada genre musik Jawa Timuran.

2.4. Judul : BAYANG CANDI MUARA JAMBI”

Sebenarnya, lirik lagu ini berkisah asmara, tentang sejoli yang berkunjung ke kawasan arkeologi Muara Jambi. Keduanya melihat dan merasakan keabadian budaya dari candi-candi Buddhis yang telah berusia lebih dari satu milemium. Dimana yang berasal dari abad VII-VIII Masehi. Kompleks percandian di Muaro Jambi merupakan “warisan budaya (cultural heritage)”, yang terwariskan lintas masa, lintas generasi. Mereka berharap bisa memperoleh “keabadian” yang demikian buat cinta kelanggengan mereka. Beat musika dari sajian bernuasa “Melayu Sumatra”.

C. P e n u t u p

Sajian musika yang disertai dengan pertunjukan tari ini sengaja dikemas dalam konteks “cultural heritage”. Garap musik yang dihadirkan oleh Arca Tatasawara adalah ekspresi pelestarian budaya masa lampau lewat wahana musika. Areal pementasan di situs Candi Kidal menambah kental nuansa ke-heritage-an dari berkat seni-budaya ini. Semoga memberi tontonan dan sekaligus tuntunan yang menarik dan berharga. Nuwun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?