Tragedi Sumur Maut Madyopuro 18 September 1947 di kota Malang
Setelah Kota Malang jatuh dalam kekuasaan penuh tentara Belanda pada 1-3 Agustus 1947 sebagai rangkaian operasi militer dengan sandi Operatie Product atau yang kita kenal dengan Agresi Militer tahun 1947. Berbagai peristiwa rumor pembersihan dan pencarian gerilyawan oleh Tentara Belanda telah menjadi suatu kabar yang menakutkan. Dalam bukunya Kwee Thiam Tjing atau Tjambuk Berduri didapati suasana Malang pasca kejatuhan kota. Perekonomian merosot, keamanan tak terjamin hingga isu rasial melanda warga akibat politik adu domba rakyat dan pedagang. Mulai dari perkotaan hingga wilayah pinggiran tak lepas dari upaya tentara belanda menyusuri keberadaan para gerilyawan rakyat kota beserta simpatisannya.
Strategi untuk mempertahankan kota dilakukan dengan siasat Bumi Hangus. Hampir 1000 bangunan di kota Malang dibakar oleh Gerilyawan Rakyat Kota (GRK) yang sengaja lakukan agar Belanda tidak dapat memakai bangunan tersebut. Sehingga sejak 21 Juli 1947, masyarakat Malang telah bersiap untuk lakukan pembakaran dan penghadangan gerak Agresor Belanda.
Sebelumnya ada pertempuran yang dilakukan oleh TRIP tentara republik indonesia pelajar di kota Malang. Sejumlah anggota TRIP batalyon 5000 Malang dibantu oleh batalyon 3000 Kediri bertempur dalam kondisi sungguh tidak seimbang. Peristiwa pertempuran yang berada di jalan Salak akibatkan gugurnya 35 pelajar pejuang pada 31 Juli 1947. Sebagian tentara TRIP yang terluka atau yang mendapat perintah mundur segera lakukan konsolidasi untuk menuju Markas Sementara di selatan Kota Malang.
Rakyat Malang yang belum sempat mengungsi mendengar peristiwa jalan salak tersebut, membuat keputusan bahwa mereka harus segera menyingkir ke daerah Republik di Kepanjen, Gondanglegi, Bululawang dan sekitarnya. Arus pengungsian yang cukup besar adalah melalui jalan Kedungkandang, Pakis mengarah ke Bululawang Gondanglegi. Hal ini mengakibatkan penjagaan pos Belanda disekitar Pakis, Cukam, Kebalen hingga jembatan Kedungkandang diperketat. Mereka berasumsi bahwa gerilyawan kota akan berbaur dengan para pengungsi menuju arah selatan.
Dari data informan Belanda, didapatkan kurang lebih satu regu gerilyawan menyingkir dari kota menuju pinggiran barat kota Malang. Mereka diperkirakan akan menyusun kekuatan kembali dan bergabung bersama Kompi Hamid Rusdi di daerah Wonokoyo Bululawang.
Dalam sebuah peristiwa pengintaian oleh Tentara Belanda pada Kamis Pon, 18 September 1947, diketahui sejumlah gerilyawan berada didaerah Madyopuro Malang.Tepatnya di sebuah lapangan Klenengan yang dikelilingi pohon bambu, terlihat beberapa gerilyawan. Sontak saja dalam sekejap Tentara Belanda yang berada di pos-pos dekat dengan daerah Madyopuro melakukan sisasat. Pengejaran dilakukan dengan teknik penyisiran. Beberapa orang gerilyawan terlihat bersembunyi di sebuah bangunan di sebelah selatan kuburan Madyopuro. Serta merta Belanda melakukan penyergagapan pada rumah tersebut.

Hasilnya kurang lebih ada 14 pejuang gerilyawan kemerdekaan RI terlihat bersembunyi. Selanjutnya patroli Tentara Belanda tersebut melakukan penembakan sporadis dan eksekusi mati terhadap mereka yang terlihat. Untuk memastikan tidak ada lagi gerilyawan lagi, maka dilakukan pembersihan di lokasi tersebut. Hasilnya ditemukan sekitar sepuluh pejuang yang jasadnya terkapar bersimbah darah terkena berondongan peluru. Dan didapati terdapat 11 pejuang yang telah mati tertembak.
Selanjutnya jasad gerilyawan dan warga tersbut dimasukkan di sumur berdiameter sekitar 1,5 meter yang berada dibelakang rumah. Ada empat orang warga yang diketahui identitasnya, yakni Dulmanan, Samaun, Poniman, dan Suwandi. Selebihnya adalah para gerilyawan yang berasal dari luar daerah Madyopuro. Informasi yang diperoleh, gedung sekolah itu dulunya adalah bangunan rumah tempat persembunyian pejuang. Begitu diketahui keberadaanya, Tentara Belanda langsung menyergap masuk dan menghabisi semua pejuang yang ada di dalam gedung itu.
Beberapa warga menyakini bahwa saat peristiwa itu terjadi tentara Belanda menembak para pemuda tersebut serta membuang jasad mereka ke dalam sumur itu sebagai peringatan bagi gerilyawan pejuang yang lain
Di lokasi pembantaian itu kini, didirikan Monumen Sumur Maut serta Monumen peringatan yang berada di kelurahan Madyopuro Kedungkandang, tepatnya di lokasi SDN I Madyopuro. Sumur maut itu berada di belakang sekolah dan dihiasi bendera pejuang. Sebagian sumur juga telah berubah menjadi ruang-ruang kelas. Selain itu juga ada plakat yang diresmikan oleh Dewan Penasehat Angkatan 45 Kotamadya Malang yaitu Sugiyono pada tanggal 22 Agustus 1996 untuk mengenang peristiwa tersebut.

Dalam peringatan HUT Kemerdekaan ini perlu ditelusuri lagi peristiwa tersebut sebagai upaya untuk memperluas wawasan kebangsaan. Agung H. Buana pemerhati sejarah Kota Malang menyatakan bahwa berbagai peristiwa seputar upaya mempertahankan kemerdekaan pada periode 1947-1949 perlu dilakukan pelestarian. Dari sebuah peristiwa akan menjadi inspirasi bagi masa depan. Merdeka (djaja)
