Arca Tatasawara Menuju Mini Konser Harmoni Candi Nada Zaman
Sebagai bentuk sosialisasi pelestarian cagar budaya berupa candi-candi di Nusantara, group musik world class bergenre etnik asal Malang, Arca Tatasawara turut serta lestarikan budaya. Melalui musik etniknya, QArca Tatasawara berencana lakukan mini konser di Candi Kidal Malang. Sesuyai rencana pelaksanaannya akanb dilakukan pada 10 April 2025 bersama pendukung perjalanan musik Arca Tatasawara. Seperti Fima Wijaya, Ki Sholeh Mangundarmo Tumpang, Ki Ardi Purbo Antono, Pegiat Kampung Batara, Mason Art Galery, dan additional player lainnya. Demikian yang terungkap pada konferensi media jelang mini konser.
Arca Tatasawara sebagai group musik beranggotakan Nova (vokalis), Koko (gitar), Adit (drum), Cak Mad (Bass), Agus Wayan (gitar), Fisal (kendang- suling) dan Toetoet (biola) mendapatkan apresiasi dari Fasilitasi Kebudayaan melalui Badap Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur. Pertunjukan ini memberikan alternatif cara sosialisasi cagar budaya melalui pentas musik.

Pertunjukan musikal Arca Tatasawara ini bertema “Harmoni Candi Nada Zaman”. Mengapa diberi tema demikian? Pertama, karena harmoni” merupakan salah satu prinsip dalam olah bunyi untuk menghasilkan “bunyi musikal”. Harmoni bunyi musikal terbentuk oleh paduan bunyi dua atau lebih nada yang dimainkan secara bersamaan, hingga menghasilkan keselarasan dan keindahan dalam musik. .Sejumlah luaran bunyi dari beragam jenis waditra (music instrument) “diharmonisasikan” untuk menciptakan orkestrasi bunyi. Tanpa harmoni, niscaya cuma hadir keruwetan bunyi.
“Harmoni candi nada zaman” merupakan metafora harmoni bunyi musi-kal yang terwariskan dari waktu ke waktu dalam lintas generasi. Berwujud sebagai ” teadsi musik”, yang mempresentasikan olah nada yang selaras dengan minat dari para penggunanya pada zamannya. Musik tradisional serupa dengan candi sebagai cagar budaya, yang hadir sebagai warisan budaya, yang karena perlu dilestarikan dan digayagunakan untuk beragam keperluan.
Sebagai satu-satunya grup musik bergenre World Music, Arca Tatasawara menjadikan pelestarian dan sosialisasi pelestarian peninggalan masa lalu sebagai misi utama. Arca Tatawara senantiasa berusaha konsisten dalam setiap pertunjukan untuk membawa nuansa budaya, serta memberikan perspektif baru kepada khalayak musik bahwa cagar budaya Nusantara adalah ladang ilmu dan samudra inspirasi yang tak akan habis untuk digali dan diteliti sebagai bagian integral dalam upaya pemajuan kebudayaan sesuai dengan Undang-undang Nomor 5 tahun 2017.
Tujuan yang ingin dicapai Arca Tatawara melalui konser pada 10 Agustus 2025 adalah turut dalam upaya sosialisasi peningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian cagar budaya Nusantara, khususnya di percandian. Selain itu adalah untuk mengenalkan nilai-nilai luhur dan filosofi yang terkandung dalam relief dan arca candi melalui medium musik. Serta kedepan ikut serta menciptakan ruang apresiasi seni yang edukatif dan dekat dengan masyarakat di lokasi cagar budaya (in situ).
Dalam bermusik di Candi Kidal dengan pengunaan panggung yang minimalis dan intimate performing akan menciptakan suasana yang hangat, akrab, dan personal, memungkinkan penonton untuk lebih intim dan dekat serta semua dapat menikmati keindahan Candi Kidal sekaligus merasakan pengalaman konser mini yang unik. Dengan duduk lesehan, penonton dapat dengan leluasa menikmati setiap sudut keindahan candi tanpa kehilangan momen pertunjukan.
Pada skenario pertunjukan yang berkonsep seni pertunjukan musik dan tari ini, Arca tatasawara akan mempersembahkan 8 lagu karya yang sangat erat kaitannya dengan panel candi yang berjudul Malang,Garudeya, Nusantara, Singgah, Jegeg sajan ,Pertanian, Marantau, Javabian. Yang nantinya di setiap lagu akan berkolaborasi bersama seni pertunjukan tari .

Sebelum pertunjukan musik akan di buka oleh Dwi cahyono (arkeolog) untuk menarasikan Nama Arca Tatasawara dan sosok Garudeya yang menjadi judul lagu dan seni pertunjukannya. Kemudian akan di buka doa bersama 2 dalang oleh Ki Sholeh sesepuh padepokan Mangun dharmo tumpang,Ki Ardhi Poerbo Antono bersama pembacaan Lontar yusuf Banyuwangi oleh Mala dari Kampoeng Batara.
Pembukaan pertunjukan oleh Malang dance berjudul Air Suci Sang Bunda dan perfomance dari pelaku seniman tari kontemporer dari Kampoeng Batara Banyuwangi, dilanjutkan penyerahan penghargaan oleh arca tatasawara kepada pihak-pihak yang sudah support selama ber usia 3 tahun ini. Kemudian Konser dimulai dengan lagu pertama berjudul Garudeya yang akan berkolaborasi bersama tarian kontemporer yang menceritakan sosok Garudeya kisah mitologi Garudeya, yaitu kisah seorang anak yang berjuang membebaskan ibunya dari perbudakansang ular naga.
lagu kedua berjudul Nusantara dimana benang merahnya mengambil seni reog Ponorogo sebagai salah satu kesenian yang sudah mendunia baik nasional maupun internasional . Rasa kenusantaraan musik di alat musik slompret dan kendang Ponorogo. Pertunjukan musik akan berkolaborasi bersama sanggar masyarakat dengan Reog Ponorogo dan penampilan barong.
Lagu ke tiga, Singgah, terinpirasi oleh perjalanan Kerajaan Sriwijaya yang memiliki hubungan erat dengan Cina, terutama dalam hal perdagangan dan kebudayaan. Pada musik ini terasa kuat di komposisi nada cina yang menceritakan perjalanan perdagangan maupun menyebarluaskan agama.
Lagu ke empat, Jegeg Sajan, menceritakan sosok perempuan cantik Kendedes . Terinspirasi candi Penataran, dimana ada sosok perempuan di beberapa panel candi. Judul berbahasa Bali yang memiliki arti cantik sekali , maka komposisi di lagu ini kuat nuansa Bali yang nantinya akan berkolaborasi bersama tarian Bali
Lagu ke lima, Pertanian, terinspirasi panel di Candi Borobudur menceritakan aktivitas pertanian dalam reliefnya, khususnya dalam relief Karmawibhangga dan relief Jataka. Komposisi musiknya dikemas lebih ke etnik yang kekinian.
Lagu ke enam, Malang, menceritakan ke nyamanan wilayah Malang dengan beragam wisata alam ,budaya dan situs . Lagu ini berfokus pada Malang Raya yang memiliki beberapa candi yang menjadi objek wisata sejarah dan budaya, antara lain Candi Singosari, Candi Kidal, Candi Jago, Candi Badut, dan Candi sumberawan.
Lagu Malang akan berkolaborasi bersama penari topeng malang yang jadi icon tari malang raya.
Lagu ke tujuh Marantau, terasa lebih ke nuansa Melayu muaro Jambi dengan merasakan suasana yang selalu kangen kembali ke candi untuk berdoa, ritual dan merasakan suasana tradisi yang langka. Dengan menampilkan kesenian rakyat khas Muara Jambi dan perpaduan antara budaya hidup dan situs bersejarah.
Lagu ke delapan berjudul Javabian , komposisi nuansa timur tengah berkolaborasi bersama tari sufi.
Sampai ketemu di Candi Kidal 10 Agustus 2025
Majulah Nusantara, bangkitlah Generasi Indonesia Emas 2045
