Gotong Royong, Kearifan Lokal Indonesia Jawab Tantangan Modernisasi, Catatan Harry Waluyo
Ketika Tradisi Lama Menyapa Krisis Global
Bayangkan suasana di sebuah kampung di Indonesia. Saat rumah tetangga rusak, warga tak menunggu imbalan atau perintah. Mereka datang membawa tenaga, bahan bangunan, dan makanan. Yang muda bekerja, yang tua memberi arahan, yang mampu menyumbang bahan. Saat senja tiba, rumah berdiri kokoh kembali—dan hubungan antarwarga pun makin erat.
Inilah gotong royong, kearifan lokal yang telah mengakar selama berabad-abad di Nusantara. Tradisi ini bukan sekadar kerja bakti; ia adalah filosofi hidup tentang kebersamaan, tanggung jawab, dan saling bantu tanpa pamrih. Menariknya, nilai ini kini justru menjadi jawaban bagi persoalan besar dunia modern—mulai dari krisis iklim hingga ketimpangan sosial.
Nilai Universal yang Tak Hanya Milik Indonesia
Gotong royong bukan monopoli bangsa Indonesia. Banyak negara punya semangat serupa, hanya beda nama. Di Filipina disebut bayanihan, di Kenya dikenal harambee (“tarik bersama”), di Irlandia ada meitheal, di Ekuador dikenal minga, dan di Norwegia disebut dugnad. Semuanya menekankan hal yang sama: ada masalah yang tak bisa diselesaikan dengan persaingan, tapi bisa diatasi lewat kerja sama.
Mengapa Dunia Butuh Gotong Royong Sekarang?
Masalah terbesar umat manusia hari ini—seperti perubahan iklim, pandemi, dan kesenjangan ekonomi—adalah masalah bersama. Tak ada satu negara pun yang bisa menyelesaikannya sendirian, tetapi semua akan terdampak bila tak diatasi.
Gotong royong menawarkan cara pandang baru: “Kita bergerak bukan karena diperintah, tapi karena sadar bahwa kebaikan orang lain adalah juga kebaikan kita sendiri.”
Tiga Pilar Pemikiran Gotong Royong
Kontribusi Proporsional, Manfaat Universal
Dalam gotong royong, setiap orang memberi sesuai kemampuannya. Yang kuat menyumbang tenaga, yang kaya memberi bahan, yang tua memberi nasihat. Semua menikmati hasilnya bersama.
Prinsip ini sejalan dengan Perjanjian Paris tentang Iklim, yang mengusung “tanggung jawab bersama namun berbeda tingkat.”
Timbal Balik Tanpa Bukti Tulis
Gotong royong tidak mengenal “kontrak sosial” tertulis. Orang membantu hari ini dengan keyakinan bahwa suatu saat, saat ia butuh, komunitas akan menolongnya kembali.
Bukan idealisme kosong, tapi kepercayaan sosial—modal yang sering hilang di masyarakat modern.
Musyawarah, Bukan Voting
Sebelum bekerja, masyarakat bermusyawarah mencari mufakat. Tidak ada 51% mengalahkan 49%. Semua suara didengar. Bayangkan jika model ini diterapkan dalam perundingan internasional—bukan yang kuat memaksakan kehendak, tapi mencari solusi yang bisa diterima semua pihak.
Landasan Filosofis: Pancasila
Gotong royong adalah wajah nyata dari Pancasila.
Lima prinsip dasar ini—Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi Bermusyawarah, dan Keadilan Sosial—telah menjaga keutuhan bangsa Indonesia selama hampir 80 tahun di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya.
Kalau Indonesia bisa, mengapa dunia tidak mencoba?. Dari Lokal ke Global: Mungkinkah Diterapkan di Dunia?. Tantangannya jelas. Dunia terlalu besar, negara terlalu banyak, dan kepentingan sering berbenturan. Namun tanda-tanda harapan sudah terlihat:
COVAX, program berbagi vaksin COVID-19, mencoba prinsip gotong royong global. Green Climate Fund, di mana negara kaya membantu negara berkembang menghadapi perubahan iklim. ASEAN, yang mengambil keputusan lewat konsensus, bukan voting.
Bahkan internet pun bisa disebut bentuk baru gotong royong: Wikipedia, proyek open-source, dan Creative Commons dibangun dari kontribusi tanpa pamrih jutaan orang di seluruh dunia.
Kepemimpinan yang Menginspirasi
Gotong royong tak bisa berjalan tanpa teladan moral. Di tingkat desa, pemimpin dihormati bukan karena jabatan, tapi karena ketulusan dan integritasnya.
Bayangkan jika dunia dipimpin oleh negara yang dihormati karena kejujuran dan kontribusinya, bukan karena kekuatan militer atau ekonomi.
Indonesia di Panggung Dunia
Indonesia punya posisi unik. Pendiri Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia-Afrika Bandung. Demokrasi terbesar di dunia Muslim. Jembatan antara Timur dan Barat. Dengan filosofi Pancasila dan semangat gotong royong, Indonesia bisa menjadi contoh nyata bagaimana keragaman, demokrasi, dan solidaritas bisa berjalan seiring.
Dunia dengan Semangat Gotong Royong. Bayangkan dunia yang meniru semangat ini.
Dalam aksi iklim, negara kaya berbagi teknologi, negara berkembang memberi inovasi lokal. Dalam kesehatan global, alih teknologi vaksin, bukan monopoli. Pandangan ekonomi, perdagangan adil yang menumbuhkan semua pihak, bukan sekadar yang kuat. Dalam perdamaian, keamanan bersama, bukan aliansi untuk melawan.
Tiga Pergeseran Pola Pikir yang Dibutuhkan Dunia
Dari transaksi ke relasi, bukan “apa untungnya bagiku”, tapi “apa manfaatnya bagi kita.” Kemudian kompetisi ke komplementaritas, saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan. Dari pemaksaan ke keteladanan, ketaatan lahir bukan karena takut sanksi, tapi karena terinspirasi.
Penutup: Saatnya Dunia Ikut “Turun Tangan”
Dunia kini menghadapi momen krusial: mau ikut bekerja sama atau hanya menonton?. Krisis iklim, pandemi, dan ketimpangan sosial adalah “rumah kebakaran” kita bersama. Gotong royong mengingatkan kita bahwa kita hanya akan selamat jika semua memiliki kesadaran untuk bergerak bersama.
Sebagaimana pesan orang-orang bijak terdahulu. “Kalau ada kerja untuk kebaikan bersama, semua harus turun tangan.” Ini bukan sekadar idealisme, melainkan realitas yang dibutuhkan sekarang untuk mengatasi isu-isu global yang semakin kompleks.
